Kabarminang — Praktisi Geographic Information System (GIS) sekaligus pengamat kebencanaan Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, menyebut pembangunan jalan Tol Padang-Pekanbaru seksi Sicincin–Bukittinggi sepanjang 41,1 kilometer memiliki potensi risiko bencana alam dan konflik tanah ulayat.
Menurutnya, jalur tol tersebut membelah kawasan Pegunungan Bukit Barisan yang memiliki karakteristik lereng curam serta perbedaan tinggi daratan yang kontras. Kondisi tersebut dinilai menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pembangunan infrastruktur.
“Trase tol ini membelah Pegunungan Bukit Barisan yang memiliki lereng curam dan perbedaan tinggi daratan yang sangat kontras. Karakteristik geologi di sepanjang jalur tersebut memicu kerentanan tinggi terhadap bencana gempa bumi, tanah longsor, dan erosi tanah,” tuturnya.
Ia melanjutkan, jalur tol tersebut juga dirancang melewati kawasan dekat Sesar Sianok yang merupakan bagian dari patahan aktif Sistem Sesar Sumatera.
“Penentuan jalur tol tidak boleh sekadar mencari jarak terpendek atau biaya termurah, melainkan wajib mengutamakan keselamatan jangka panjang,” katanya.
Timtim menyarankan pemerintah menerapkan metode analisis Geographic Information System (GIS) berbasis multikriteria dalam menentukan jalur pembangunan. Ia menilai metode tersebut dapat digunakan untuk membandingkan berbagai alternatif jalur yang lebih aman sebelum menetapkan rute akhir konstruksi.
Selain faktor geologi, Timtim juga mengingatkan pembangunan proyek strategis nasional tersebut bersinggungan dengan tanah pusako atau lahan ulayat milik kaum. Menurutnya, bagi masyarakat Minangkabau, tanah memiliki nilai historis dan identitas keluarga yang tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi.
“Tanah adat di sini bukan komoditas ekonomi biasa yang selesai begitu saja dengan pembayaran ganti rugi finansial,” ucap Timtim.
















