Kabarminang – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali terjadi di Kota Padang dalam sebulan terakhir. Kondisi ini ditandai dengan antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), terutama di SPBU Pisang dan SPBU Khatib.
Pantauan Sumbarkita di SPBU Pisang, Jalan Bypass, Kecamatan Pauh, menunjukkan antrean didominasi kendaraan truk. Sementara itu, di SPBU Khatib kawasan Ulak Karang, Kecamatan Padang Utara, antrean diisi berbagai jenis kendaraan berbahan bakar solar, mulai dari truk, minibus hingga bus.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menduga kelangkaan solar subsidi tersebut berkaitan dengan meningkatnya konsumsi solar yang salah satunya dipicu aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sejumlah daerah.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumatera Barat, Helmi Heriyanto, memastikan kelangkaan solar bersubsidi di wilayahnya dipicu oleh aksi penimbunan untuk menyuplai kegiatan PETI.
Menurut Helmi, temuan tersebut diperoleh setelah Satuan Tugas Pengendalian dan Pengawasan Penyaluran BBM Bersubsidi Pemprov Sumbar melakukan razia ke sejumlah SPBU serta memeriksa para pelangsir solar.
Ia mengungkapkan, volume solar subsidi yang diselewengkan di seluruh Sumatera Barat diperkirakan mencapai 150 kiloliter (KL) per hari.
“Setiap kabupaten yang terdampak rata-rata kehilangan 5 hingga 15 KL solar subsidi per hari karena ditimbun,” ujar Helmi pada Minggu (7/6/2026).
Helmi menyebutkan terdapat tujuh kabupaten yang saat ini masuk kategori rawan aktivitas PETI dan diduga menjadi lokasi utama penyalahgunaan solar subsidi. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Sijunjung, Dharmasraya, Solok Selatan, Solok, Pasaman, Pasaman Barat, dan Lima Puluh Kota.
















