Di sisi lain, BPS mencatat beberapa subsektor mengalami penurunan. Subsektor tanaman pangan, yang mencakup padi dan palawija, mengalami penurunan NTP akibat melemahnya harga gabah dan beras di pasaran.
“NTP tanaman pangan turun akibat merosotnya harga beras dan gabah,” ungkap Nurul.
Penurunan juga terjadi pada subsektor perikanan dan peternakan. Kesejahteraan nelayan tangkap maupun pembudidaya ikan tercatat mengalami tekanan selama Mei 2026.
“NTP nelayan tangkap turun 2,41 persen, sedangkan pembudidaya ikan turun 1,03 persen,” jelasnya.
Selain NTP, BPS Sumbar juga mencatat Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) naik 4,90 persen menjadi 137,36. Angka tersebut menunjukkan usaha pertanian di Sumbar semakin menguntungkan.
“Kenaikan NTUP ini menandakan usaha pertanian di Sumbar semakin menguntungkan,” kata Nurul.
Ia menjelaskan peningkatan keuntungan usaha tani terjadi karena kenaikan hasil penjualan produk jauh lebih besar dibandingkan kenaikan biaya produksi. Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) hanya naik 0,26 persen selama Mei 2026.
“Kondisi modal yang stabil membuat margin keuntungan bersih petani menjadi lebih besar,” ujarnya.
Nurul menambahkan, kenaikan biaya produksi yang relatif kecil dipicu oleh meningkatnya harga beberapa input pertanian seperti pupuk, benih, dan kemasan karung plastik.
“Kenaikan tipis biaya modal ini dipicu oleh harga pupuk, kemasan karung plastik, dan benih yang naik,” katanya.
Pada akhir keterangannya, Nurul menegaskan bahwa subsektor hortikultura dan perkebunan rakyat masih menjadi motor utama pertumbuhan NTUP di Sumbar.
“Sektor hortikultura dan perkebunan kembali mencatatkan kenaikan NTUP tertinggi,” pungkasnya.
















