“Pemerintah harus segera mengalihkan konsep dari sekadar pemeliharaan jalan menjadi manajemen risiko koridor transportasi agar bahaya dapat dikelola sebelum bencana terjadi,” katanya.
Ia menjelaskan, teknologi GIS dapat dimanfaatkan untuk memetakan pola spasial longsor yang terus berulang. Data tersebut kemudian digunakan menyusun profil risiko dinamis dengan mengintegrasikan informasi elevasi, jenis tanah, kemiringan lereng, hingga riwayat kejadian bencana.
Melalui pendekatan tersebut, langkah mitigasi dapat dirancang lebih terukur, mulai dari penguatan struktur lereng, rekayasa sistem drainase, hingga pemasangan sensor pemantau pergerakan tanah pada titik-titik yang dinilai rawan.
“Tantangan terbesarnya saat ini adalah keberanian para pembuat kebijakan untuk menjadikan data ilmiah geospasial sebagai dasar utama penentuan keputusan di lapangan,” tuturnya.
Jalur Strategis Sumbar
Timtim mengingatkan, dampak longsor di Lembah Anai tidak hanya dirasakan pengguna jalan. Jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi transportasi Sumatera Barat yang menopang mobilitas masyarakat, distribusi logistik, hingga sektor pariwisata.
Berulangnya bencana juga memperlihatkan masih terbatasnya jalur alternatif yang mampu menampung arus kendaraan ketika akses utama terputus. Akibatnya, gangguan terhadap satu koridor transportasi dapat berdampak luas terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Karena itu, ia menilai pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi maupun pembenahan jalur alternatif perlu disusun berdasarkan kajian geospasial yang komprehensif agar tidak memunculkan titik kerentanan baru.
“Indikator keberhasilan penanganan bencana harus diubah, bukan lagi seberapa cepat jalan dibuka pasca-longsor, melainkan seberapa mampu kita menekan frekuensi kejadiannya,” tegas Timtim.
Ia berharap pemerintah segera membangun sistem manajemen risiko koridor transportasi yang terpadu dengan mengintegrasikan pemantauan cuaca, sensor pergerakan tanah, serta pengaturan lalu lintas lintas sektor.
Menurutnya, perubahan paradigma dari penanganan darurat menuju pengelolaan berbasis data ilmiah geospasial menjadi langkah penting untuk meningkatkan keselamatan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan konektivitas transportasi di Sumatera Barat.















