Menurut Irwan, penurunan jumlah pembeli salah satunya dipengaruhi akses transportasi ke pasar yang tidak lagi optimal. Ia menyebut angkutan kota dan kendaraan umum kini tidak lagi masuk hingga ke area pasar seperti sebelumnya, sehingga berdampak pada jumlah pengunjung.
“Sejak angkot dan kendaraan tidak masuk ke pasar, kondisi pasar sepi, orang belanja sekarang sudah di kios terdekat saja lagi, terlebih pasar-pasar kecil sekarang juga sudah banyak,” katanya.
Saat ini, pembeli yang datang didominasi pelanggan tetap, terutama pelaku usaha kuliner dan pedagang makanan harian seperti sarapan dan rumah makan.
“Yang beli sekarang cuma langganan, seperti usaha sarapan di Padang Besi, dekat Rumah Sakit Siti Rahmah, lontong malam, dan Lontong Ajo Ponggo,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembeli umum hanya datang dalam jumlah kecil dengan kebutuhan sekitar 1–2 kilogram, sementara pelanggan tetap biasanya mengambil hingga 30 kilogram santan untuk kebutuhan usaha. Santan menjadi produk yang paling banyak dipesan dibandingkan olahan kelapa lainnya.
Dalam sehari, Irwan mengolah sekitar 200 butir kelapa yang dipasok dari Pariaman. Santan dijual dengan harga Rp18 ribu per kilogram, sedangkan untuk pelanggan tetap Rp16 ribu per kilogram.
Selain santan, ia juga menjual kelapa parut putih seharga Rp25 ribu per kilogram, kelapa parut biasa Rp18 ribu per kilogram, serta kelapa utuh seharga Rp10 ribu per butir.
Irwan membuka kiosnya setiap hari mulai pukul 05.00 WIB hingga 18.00 WIB. Ia mengakui bahwa permintaan santan biasanya meningkat saat Idul Adha karena kebutuhan memasak, terutama untuk olahan rendang.
Meski demikian, peningkatan tersebut belum mampu mengembalikan ramainya aktivitas pasar seperti dulu. Ia berharap kondisi perdagangan di Pasar Raya Padang dapat kembali normal dan jumlah pembeli meningkat.