Ia menambahkan, rumah sakit memiliki tiga kamar operasi untuk penanganan penyakit, sehingga dalam kondisi lonjakan pasien, proses pelayanan harus mengikuti antrean berdasarkan prioritas medis.
Terkait tudingan keluarga mengenai kondisi pelayanan, termasuk isu kebersihan, Bestari membantah adanya praktik yang tidak sesuai standar. Ia menegaskan bahwa penanganan luka bakar memiliki prosedur ketat, termasuk proses pembersihan sebelum tindakan lanjutan.
“Bahkan disebutkan mandi dengan kotoran, kita yang bukan dokter atau perawat saja mungkin tahu bahwa tidak mungkin dimandikan dengan kotoran. Itu ada SOP-nya. Kalau ada luka bakar itu dibersihkan dulu, lalu dimandikan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa dalam situasi darurat, pelayanan tetap dilakukan sesuai prioritas tanpa menunda tindakan medis. Proses operasi, kata dia, melalui tahapan yang jelas, mulai dari persiapan, tindakan, hingga pascaoperasi.
Luka Bakar Sulit Diprediksi
Bestari menjelaskan secara medis, kondisi luka bakar pada Alceo masih dianggap sulit diprediksi. Ia menyebut, terdapat proses internal dalam tubuh seperti kehilangan protein dan inflamasi yang dapat berkembang secara kompleks.
“Untuk luka bakar, sampai sekarang dianggap penyakit yang tidak bisa diprediksi. Artinya, terbakar di luar tetapi di dalamnya ada proses terjadi pembuangan protein yang berlebihan, kemudian ada inflamasi berlebihan terutama pada anak,” katanya.
Sebelumnya kasus ini mencuat setelah ibu korban, Nuri Khairma, menyampaikan curahan hati terkait duka atas meninggalnya sang anak melalui unggahan di akun Instagram pribadinya beberapa waktu lalu. Dalam unggahan itu, ia menjelaskan kronologi perawatan anaknya di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil Padang yang diduga mengalami kelalaian medis hingga akhirnya anak tersebut meninggal dunia.
















