Kabarminang – Pembukaan kembali akses Jalan Lembah Anai selama 24 jam penuh disambut positif karena memperlancar mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di Sumatera Barat (Sumbar). Jalur utama yang sempat terputus akibat bencana alam tersebut kini kembali beroperasi normal dan menjadi penghubung penting antarwilayah.
Namun, praktisi Geographic Information System (GIS) Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, mengingatkan bahwa pemulihan tersebut tidak serta-merta menghilangkan kerentanan sistem transportasi di daerah ini.
Menurutnya, Sumbar masih sangat bergantung pada satu koridor utama, sehingga ketika terjadi gangguan, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor.
“Dalam dua tahun terakhir terlihat jelas. Saat Lembah Anai terdampak galodo pada 2024, masyarakat masih bisa mengandalkan jalur Malalak. Tetapi pada 2025, jalur itu juga ikut lumpuh akibat longsor,” kata Timtim, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan, saat kedua jalur tersebut tidak dapat digunakan, arus kendaraan terpaksa dialihkan ke Sitinjau Lauik. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya biaya logistik, tingginya risiko perjalanan, serta waktu tempuh yang lebih panjang.
Secara analisis jaringan, lanjutnya, hal ini menunjukkan rendahnya redundansi infrastruktur transportasi di Sumbar. Artinya, belum tersedia jalur alternatif yang benar-benar mampu menggantikan fungsi koridor utama Lembah Anai.
Timtim juga menilai jalur tersebut memiliki peran strategis karena menghubungkan Kota Padang dengan sejumlah pusat ekonomi di wilayah utara dan timur, seperti Bukittinggi, Agam, Payakumbuh, hingga akses ke Provinsi Riau. Gangguan di satu titik saja dapat berdampak pada efisiensi ekonomi regional.
















