Penyusunan DED menjadi langkah awal sebelum proyek memasuki tahap konstruksi dan pengembangan jaringan secara bertahap.
Untuk mewujudkan jaringan rel yang menghubungkan ujung utara hingga selatan Pulau Sumatera, KAI memperkirakan kebutuhan investasi mencapai 20 hingga 25 miliar dolar Amerika Serikat.
Dengan asumsi kurs sekitar Rp17.900 per dolar AS, nilai investasi tersebut setara sekitar Rp358 triliun hingga Rp448 triliun.
“Kalau totalnya itu Sumatera bisa sekitar 20 miliar dolar AS sampai dengan 25 miliar dolar AS,” ujar Bobby.
Nilai investasi tersebut mencerminkan besarnya skala proyek yang akan menjadi salah satu pembangunan infrastruktur transportasi terbesar di luar Pulau Jawa dalam beberapa dekade mendatang.
Rencana pembangunan jalur kereta api Trans Sumatera yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung telah masuk dalam peta jalan transformasi KAI periode 2026–2030.
Proyek ini diharapkan mampu memperkuat konektivitas antarprovinsi, meningkatkan efisiensi distribusi logistik, menekan biaya transportasi, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah yang dilalui jalur kereta api.
Apabila terealisasi, jaringan tersebut akan menjadi tulang punggung transportasi rel di Pulau Sumatera dan menghubungkan sejumlah pusat pertumbuhan ekonomi dari Aceh hingga Lampung dalam satu sistem perkeretaapian yang terintegrasi.
















