Kabarminang – Harapan baru hadir bagi Ibnu (17), siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Mutiara Qalbu, Nagari Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman. Setelah hidup dengan keterbatasan pendengaran sejak lahir, Ibnu kini mulai mengenal dunia suara melalui bantuan alat bantu dengar yang diserahkan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman bersama Tim Penggerak PKK (TP-PKK) Kabupaten Padang Pariaman, Jumat (3/7).
Bantuan tersebut merupakan hasil gotong royong dan donasi berbagai pihak yang diinisiasi TP-PKK Kabupaten Padang Pariaman, tanpa menggunakan anggaran pemerintah daerah.
Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, mengatakan bantuan itu menjadi bukti bahwa kepedulian sosial dan semangat kebersamaan dapat menghadirkan perubahan nyata, khususnya bagi anak-anak penyandang disabilitas.
“Hari ini kami menyerahkan alat bantu dengar kepada salah satu anak kita, Ibnu, yang berusia 17 tahun. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis THT, ternyata pendengarannya masih dapat dibantu melalui penggunaan alat bantu dengar. Insya Allah dengan alat ini, Ibnu dapat kembali mendengar dan berkomunikasi dengan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengadaan alat bantu dengar tersebut sepenuhnya berasal dari hasil donasi dan iuran bersama TP-PKK serta para dermawan.
“Tidak ada sedikit pun dana APBD yang digunakan. Semuanya merupakan hasil gotong royong, berdonasi, dan iuran bersama. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ketua TP-PKK, dokter spesialis THT, tenaga kesehatan, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi,” katanya.
Menurut John Kenedy Azis, gerakan sosial seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak penyandang disabilitas agar memperoleh akses kesehatan dan pendidikan yang lebih baik.
Sementara itu, Ketua TP-PKK Kabupaten Padang Pariaman, Nita Christanti Azis, menjelaskan bahwa inisiatif membantu anak-anak dengan gangguan pendengaran berawal dari pengalaman mendampingi seorang anak bernama Udin.
Ia mengungkapkan, keluarga Udin sebelumnya meyakini anak tersebut mengalami ketulian total sejak lahir. Namun setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis THT, diketahui masih terdapat sisa pendengaran yang dapat dioptimalkan melalui alat bantu dengar.
“Saat pertama kali menggunakan alat bantu dengar, suara pertama yang didengar Udin adalah suara ayam berkokok. Dia sampai meneteskan air mata karena terharu. Dari pengalaman itu, saya berpikir mungkin masih banyak anak-anak lain yang mengalami kondisi serupa,” ungkapnya.
Berangkat dari pengalaman tersebut, TP-PKK menggandeng dokter spesialis THT untuk memeriksa siswa di SLB Mutiara Qalbu. Hasil pemeriksaan menunjukkan tiga siswa masih memiliki potensi pendengaran yang dapat dibantu melalui alat bantu dengar.
Dari hasil tersebut, Ibnu diprioritaskan karena usianya telah memasuki 17 tahun.
“Setelah diperiksa ternyata pendengarannya masih bisa dibantu. Sangat disayangkan waktu yang telah terlewat begitu lama,” kata Nita.
Ia berharap kisah Ibnu dapat menjadi inspirasi bagi para orang tua agar tidak langsung menyimpulkan anak mengalami ketulian permanen tanpa pemeriksaan medis secara menyeluruh.
Selain penggunaan alat bantu dengar, Ibnu juga akan menjalani terapi wicara untuk membantu mengembangkan kemampuan komunikasi dan interaksi sosialnya.
Penyerahan bantuan yang berlangsung di lingkungan SLB Mutiara Qalbu tersebut disaksikan jajaran Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, TP-PKK, tenaga kesehatan, guru, orang tua siswa, dan masyarakat setempat.
Momen tersebut menjadi gambaran bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial masih tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus membuka harapan baru bagi anak-anak penyandang disabilitas menuju masa depan yang lebih baik.















