“Selama 25,5 tahun berdinas, saya belum pernah ambil cuti untuk jalan-jalan karena hati saya tidak tenang jika ada kejadian di lapangan saat saya sedang libur,” ucap mantan personel Polres Mentawai itu.
Prinsip kerja “On Call 25 Jam” menjadi moto hidup yang dijalani David demi memastikan laporan masyarakat segera ditindaklanjuti tanpa menunda waktu. Ia menganggap pekerjaan itu sebagai hobi. Karena itu, ia menjalani tugas dengan tulus dan ikhlas meski seringkali waktu bersama keluarga harus dikorbankan demi mengungkap sebuah kasus kriminal.
Integritas pelayanan publik ditekankan oleh David melalui kebijakan nol biaya (gratis) bagi seluruh masyarakat yang memerlukan bantuan Tim Klewang. Ia menyebut bahwa dalam melayani masyarakat, Tim Klewang tidak pernah memungut biaya apa pun, baik dari warga kurang mampu maupun warga yang kaya.
“Semua kami layani secara adil dan profesional,” tutur pria kelahiran 16 September 1979 itu.
David bahkan mengaku sering merogoh kocek pribadi untuk menanggung biaya operasional dan makan para anggotanya agar mereka tetap fokus bekerja tanpa beban materi.
“Saya ingin anggota saya bekerja dengan tenang di lapangan. Maka, kebutuhan operasional sering saya tanggung sendiri agar mereka tidak berpikir untuk mencari uang di luar aturan,” ujar David.
Mengenang risiko di lapangan, David menceritakan pengalamannya saat baku tembak dengan perampok ATM di kaki Gunung Singgalang pada 2010. Saat itu pihaknya tidak memakai rompi pelindung, sementara kontak senjata terjadi di tengah hutan.
“Saat itu saya sadar bahwa risiko jadi polisi profesi pilihannya hanya dua: penjara atau kuburan,” katanya mengingat momen paling berkesan dalam kariernya.
















