Tidak jarang mereka harus kembali ke rumah yang sama hingga beberapa kali sebelum berhasil bertemu pemiliknya.
“Seringnya dua sampai tiga kali. Soalnya kalau pagi sampai siang mereka kerja di sawah. Biasanya baru ketemu sore pas mereka sudah pulang,” katanya.
Ia mengatakan respons masyarakat terhadap proses pendataan cukup beragam. Sebagian warga menerima kedatangan petugas dan bersedia memberikan informasi, sedangkan sebagian lainnya masih sulit ditemui bahkan menolak untuk didata.
Di sisi lain, para mitra pendata juga menyampaikan adanya target pekerjaan yang harus diselesaikan selama periode pendataan berlangsung. Nasrul mengatakan terdapat ketentuan dalam surat perjanjian kerja mitra terkait pelaksanaan tugas, termasuk konsekuensi apabila pekerjaan tidak dapat diselesaikan sesuai target.
Hal senada disampaikan mitra pendata lainnya, Andika. Ia mengaku menemukan sejumlah warga yang masih mempertanyakan tujuan pendataan sebelum memberikan informasi kepada petugas.
Menurut Andika, salah satu alasan warga enggan memberikan data karena muncul kekhawatiran bahwa informasi yang disampaikan nantinya berkaitan dengan pajak.
“Ada yang takut data yang diberikan nantinya berhubungan dengan kebijakan pajak,” ujarnya.
Selain itu, menurutnya kekhawatiran warga tidak hanya soal pajak.
“Banyak yang takut datanya dipakai buat hal lain. Ada yang khawatir nanti pajaknya naik, ada juga yang takut bantuan dihentikan atau data pribadinya disebarluaskan,” ujarnya.















