Minggu, September 27, 2026
kabarminang.com
No Result
View All Result
kabarminang.com
kabarminang.com
No Result
View All Result
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
Home Artikel & Opini

Awas, Bencana Susulan!

Redaksi
Jumat, 13 Februari 2026 | 00:18
in Artikel & Opini
Foto: AI

Foto: AI


Penulis: Jenia Ghaziah

Kabarminang – Beberapa hari belakangan, peringatan tentang cuaca ekstrem yang masih membayangi negeri ini kembali mengemuka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan, Abdul Muhari, mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar waspada terhadap potensi bencana susulan, terutama di Sumatra. Ancaman itu datang bukan sebagai sekadar kata peringatan, tapi sebagai konsekuensi konkret dari kondisi atmosfer yang belum stabil dan masih berisiko memicu kejadian hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang.

Data-data terbaru menunjukkan bahwa pandemi cuaca ekstrem tidak berakhir semata karena kalender berganti tahun. Dalam beberapa pekan terakhir, prakiraan BMKG memperlihatkan karakter cuaca yang masih fluktuatif; curah hujan tinggi, potensi angin kencang, dan sistem atmosfer yang aktif masih membayangi sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Jambi.

Fenomena ini bukan sekadar peringatan ‘di atas kertas.’ Bahkan dalam catatan BNPB sendiri, peristiwa cuaca ekstrem akhir 2025 telah terjadi di banyak daerah, dengan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat dan infrastruktur. Situasi ini semakin mempertegas bahwa keadaan hari ini adalah kesinambungan dari rangkaian kejadian cuaca ekstrem yang belum usai; bukannya fenomena ‘sekali lalu selesai.’

Khusus di Sumatra, peringatan BNPB bukan tanpa alasan. Beberapa bulan terakhir, wilayah ini telah mengalami kejadian bencana besar yang menelan korban jiwa dan kerugian besar. Laporan field bahkan mencatat ratusan hingga ribuan jiwa terdampak, rumah rusak, serta jalur transportasi dan fasilitas umum yang terganggu akibat banjir dan longsor. Data resmi menunjukkan bahwa total korban bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatra Utara saja mencapai ratusan jiwa tewas, dan ratus lainnya masih hilang atau terisolasi.

Apa itu bencana susulan, dan kenapa kita harus waspada? Istilah bencana susulan sering kita dengar di ruang berita, namun pemahamannya perlu dijelaskan secara lebih runtut. Bencana susulan bukan sekadar bencana kedua yang terjadi secara kebetulan. Ia merupakan konsekuensi lanjutan dari kondisi awal yang belum selesai dipulihkan, misalnya ketika tanah yang basah karena hujan ekstrem masih labil dan setiap hujan berikutnya lagi bisa memicu longsor, atau sungai yang penuh mudah meluap kembali ketika hujan lebat turun lagi. Inilah yang disebut aftershock dalam konteks meteorologi dan hidrologi; bukan gempa, tapi cuaca ekstrem yang berulang.

Ketika tanah jenuh air, struktur tanah berubah: pori-pori dipenuhi oleh air sehingga kekuatan tegangan tanah turun drastis. Maka setiap hujan berikutnya tidak lagi ‘diserap’ secara efektif, tapi langsung menjadi aliran permukaan yang mempercepat longsor dan banjir. Hal inilah yang sekarang tengah terjadi di sejumlah wilayah di Sumatra dan wilayah lainnya.

BNPB menyatakan tulus dan intens berkoordinasi dengan BMKG setiap tiga jam untuk memantau kondisi cuaca terkini, bahkan sampai memutuskan perlu tidaknya operasi modifikasi cuaca (seperti cloud seeding) untuk mengurangi intensitas hujan.

Upaya semacam ini, di satu sisi, menunjukkan bahwa ada keseriusan dalam langkah mitigasi. Di sisi lain, ia menggarisbawahi satu hal penting: keterbatasan kita sebagai bangsa menghadapi kekuatan alam.

Modifikasi cuaca boleh jadi membantu dalam skala mikro, tapi ia bukan alat absolut yang bisa menjamin keamanan total bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana. Ketergantungan pada teknologi seperti cloud seeding haruslah diimbangi dengan mitigasi yang lebih menyeluruh: penguatan struktur tanah di kawasan rawan, penghijauan kembali area hulu sungai, perbaikan saluran air kota, dan sistem peringatan dini yang benar-benar sampai ke basis masyarakat.

Sayangnya, di lapangan masih sering terdengar laporan tentang keterlambatan akses informasi, lemahnya kesiapsiagaan warga, dan kurangnya sarana evakuasi yang modern dan cepat. Dalam banyak kasus bencana, baik yang terjadi di tahun 2025 maupun sebaran potensi ancaman awal 2026, warga yang paling merasakan dampaknya adalah kelompok rentan: petani, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat di daerah terpencil yang aksesnya terbatas.

Statistik memang hanya angka. Namun di balik angka itu ada nyawa dan masa depan manusia. Dari catatan BNPB, kejadian cuaca ekstrem sepanjang Januari tahun sebelumnya telah mendominasi bencana nasional dengan persentase yang mendekati total kejadian bencana hidrometeorologi: hampir 99,67%. Itu artinya hampir setiap bencana yang terjadi pada bulan terbasah itu adalah karena faktor cuaca ekstrem; bukan gempa bumi atau kebakaran hutan saja.

Angka-angka ini juga mencerminkan kenyataan pahit bahwa risiko bencana kita semakin meningkat. Ketika hujan ekstrem turun setiap beberapa minggu atau bahkan beberapa hari dengan intensitas puluhan hingga ratusan milimeter per hari, sungai meluap, lereng jenuh air, dan sistem drainase kota tak mampu menahan volume air yang datang. Dampaknya adalah banjir urban yang melumpuhkan aktivitas ekonomi, tanah longsor yang memutus jalur logistik, dan yang paling tragis adalah kehilangan nyawa.

Kepada siapa peringatan ini ditujukan? Pertama, tentu kepada pemerintah daerah, terutama yang berada di Sumatra dan sejumlah wilayah rawan lainnya. Waspada berarti tidak lagi menunggu bencana terjadi baru bertindak. Itu berarti kesiapan alat angkut evakuasi, jalur komunikasi darurat yang tidak mudah putus, penyediaan pusat pengungsian sementara yang layak, bahkan sampai edukasi publik yang rutin dan intens jika kondisi potensi bencana meningkat.

Kedua, kepada masyarakat luas. Kesadaran kolektif bukan hanya tentang mendengarkan peringatan di TV atau radio, tapi juga memahami apa arti peringatan itu dalam konteks kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika BMKG mengatakan ‘potensi hujan ekstrem’ di suatu kabupaten, apa saja langkah mitigasi yang sebaiknya dilakukan warga setempat? Apa rencana evakuasi keluarga? Di mana lokasi aman terdekat jika terjadi longsor?

Akhirnya, perlu disadari, bencana susulan bukan takdir, melainkan hasil mau tidaknya kita siap. ‘Bencana susulan’ bukan sekadar istilah spektakuler di berita. Ia adalah kenyataan yang mengintai ketika kita anggap sepele setiap peringatan cuaca ekstrem, dan ketika mitigasi kita belum menyentuh akar persoalan: perubahan iklim global, alih fungsi lahan yang memperparah limpasan air, serta kurangnya sistem informasi yang merata di seluruh lapisan masyarakat.

Ketika BNPB dan BMKG berseru waspada, itu bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyadarkan kita bahwa alam tidak pernah berubah pada tempo yang sama dengan kesiapan kita. Siaga bukan hanya tangguh. Siaga adalah memahami bahwa peringatan dini adalah investasi nyawa. Juga masa depan bangsa!

*) Jenia Ghaziah adalah mahasiswa Prodi PGSD-2024 FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar, pemerhati sosial-pendidikan.


Tags: Angin KencangBanjir Bandangbencana susulanBMKGBNPBcloud seedingCuaca Ekstremevakuasi daruratInfrastruktur Terdampakkesiapsiagaan masyarakatmitigasi bencanaperingatan diniperubahan iklimSumatratanah longsor

Berita Terkait

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

27 Agustus 2026
Pejabat dan Skandal Asusila di Ranah Minang: Masih Adakah Rasa Malu?

Pejabat dan Skandal Asusila di Ranah Minang: Masih Adakah Rasa Malu?

25 Agustus 2026
Ketika Bullying Meledak Menjadi Bom

Ketika Bullying Meledak Menjadi Bom

17 Juli 2026
Komisi VIII Desak Kementerian Komdigi Blokir Akun dan Konten LGBT

6 Ayat Alquran tentang Keharaman LGBT Berdasarkan Penjelasan Para Ulama Tafsir

12 Juli 2026
Korupsi Imipas: Ketika Penyimpangan Menjadi Kebiasaan di Lingkungan Birokrasi

Korupsi Imipas: Ketika Penyimpangan Menjadi Kebiasaan di Lingkungan Birokrasi

7 Juni 2026
Kurban, Rokok, dan Refleksi Amanah

Kurban, Rokok, dan Refleksi Amanah

27 Mei 2026
Next Post
Akankah Indonesia Emas 2045 Gagal Total?

Akankah Indonesia Emas 2045 Gagal Total?

Tinggalkan Komentar

Terpopuler

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 10 April 2026: Berawan di Seluruh Wilayah

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 12 April 2026: Berawan hingga Udara Kabur

12 April 2026

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 10 April 2026: Berawan di Seluruh Wilayah

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 10 April 2026: Berawan di Seluruh Wilayah

10 April 2026

Nenek Tidur, Siswi SMA di Tanah Datar Disetubuhi Pemuda di Rumahnya Jelang Tengah Malam

Nenek Tidur, Siswi SMA di Tanah Datar Disetubuhi Pemuda di Rumahnya Jelang Tengah Malam

24 September 2026

4 Polisi di Solok Selatan Dipecat karena Sebulan Lebih Tak Masuk Dinas

4 Polisi di Solok Selatan Dipecat karena Sebulan Lebih Tak Masuk Dinas

21 September 2026

Video Bercarutnya Viral Saat Evakuasi Jenazah Ayah, Anak Korban Banjir Bandang Solok Minta Maaf 

Video Bercarutnya Viral Saat Evakuasi Jenazah Ayah, Anak Korban Banjir Bandang Solok Minta Maaf 

25 September 2026

Sepeda Motornya Tabrakan dengan Truk di Padang, Pengendara Tewas

Sepeda Motornya Tabrakan dengan Truk di Padang, Pengendara Tewas

20 September 2026

Pamit Buang Air Kecil, Penumpang Mobil Travel Meninggal di Toilet SPBU di Pesisir Selatan

Pamit Buang Air Kecil, Penumpang Mobil Travel Meninggal di Toilet SPBU di Pesisir Selatan

26 September 2026

Berita Terkini

Wujudkan Kota Inklusif, Pemko Padang Siapkan Layanan Bahasa Isyarat di Rumah Ibadah

Wujudkan Kota Inklusif, Pemko Padang Siapkan Layanan Bahasa Isyarat di Rumah Ibadah

27 September 2026

Pemkab Solok Selatan Salurkan Bantuan Beras untuk 2.822 Penerima Manfaat di Sungai Pagu

Pemkab Solok Selatan Salurkan Bantuan Beras untuk 2.822 Penerima Manfaat di Sungai Pagu

27 September 2026

Porprov Sumbar 2026 Tinggal Hitungan Hari, Sejumlah KONI Kabupaten Minta Jadwal Diundur

Pendaftaran Porprov Sumbar Ditutup Hari Ini Pukul 16.00 WIB, 4 Daerah Belum Daftar

27 September 2026

Carut-Marut Porprov Sumbar: Antara Gagah-gagahan Menjaga Jadwal dan Ketidaksiapan Anggaran Daerah

Carut-Marut Porprov Sumbar: Antara Gagah-gagahan Menjaga Jadwal dan Ketidaksiapan Anggaran Daerah

27 September 2026

Erupsi Marapi Semburkan Abu hingga 2.500 Meter, Pengamat Ingatkan Ancaman Lahar

Erupsi Marapi Semburkan Abu hingga 2.500 Meter, Pengamat Ingatkan Ancaman Lahar

27 September 2026

CCTV Rekam Sosok Pria di Rumah Lansia yang Ditemukan Tewas di Solok Selatan

CCTV Rekam Sosok Pria di Rumah Lansia yang Ditemukan Tewas di Solok Selatan

27 September 2026

Informasi

  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Berita

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau

© 2026 Kabarminang.com  All right reserved

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Tentang Kami

© 2026 Kabarminang.com All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Tentang Kami

© 2025 KabarMinang.com.