Kabarminang – Generasi Z sering digambarkan sebagai generasi yang dekat dengan teknologi, kreatif, dan memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan hidup. Namun, di balik berbagai kemudahan teknologi tersebut, terdapat persoalan besar yang tidak boleh diabaikan: semakin banyak anak muda yang merasa tertekan secara ekonomi, cemas terhadap masa depan, dan kehilangan arah dalam menentukan makna kebahagiaan.
Tekanan ekonomi menjadi salah satu persoalan yang nyata. Biaya kebutuhan hidup terus meningkat, sementara banyak anak muda menghadapi pekerjaan yang tidak selalu memberikan kepastian dan pendapatan yang sebanding dengan kebutuhan mereka. Tidak mengherankan jika rasa aman secara finansial menjadi persoalan bagi sebagian besar Gen Z.
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, budaya konsumtif justru semakin kuat. Istilah seperti self-reward, healing, dan FOMO menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Membeli makanan yang sedang tren, berbelanja, bepergian, atau mengikuti gaya hidup tertentu sering kali dipandang sebagai cara untuk mendapatkan kebahagiaan setelah menghadapi tekanan hidup.
Pada titik tertentu, tentu tidak ada yang salah dengan beristirahat atau memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Persoalannya muncul ketika konsumsi dijadikan pelarian utama dari tekanan hidup. Ketika seseorang merasa harus membeli sesuatu agar merasa bahagia, mengikuti tren agar tidak tertinggal, atau menunjukkan kehidupan yang menyenangkan di media sosial agar dianggap berhasil, maka kita perlu bertanya: mengapa generasi muda harus terus membeli untuk merasa bahagia? Di sinilah kita melihat persoalan yang lebih mendalam.
Sistem kehidupan yang didominasi kapitalisme menjadikan materi dan pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran penting keberhasilan. Manusia akhirnya tidak hanya diposisikan sebagai pekerja, tetapi juga sebagai konsumen yang terus didorong untuk membeli. Media sosial memperkuat keadaan tersebut dengan menghadirkan berbagai standar kehidupan yang tampak sempurna: rumah yang indah, perjalanan yang mahal, pakaian yang sedang tren, makanan yang populer, dan berbagai pengalaman yang seolah-olah menjadi syarat kebahagiaan.
Akibatnya, muncul lingkaran yang melelahkan. Anak muda bekerja untuk mendapatkan penghasilan, kemudian menggunakan penghasilan tersebut untuk memenuhi standar kehidupan yang terus meningkat. Ketika merasa lelah dan tertekan, mereka mencari hiburan melalui konsumsi. Setelah itu, kebutuhan dan keinginan semakin bertambah, sementara tekanan ekonomi tetap ada.
Apakah ini benar-benar kebebasan?
Jika sebuah sistem membuat manusia bekerja keras hanya untuk bertahan hidup, kemudian mendorongnya menghabiskan hasil kerja untuk mengejar kebahagiaan semu, kita patut mempertanyakan sistem tersebut.
Namun, persoalan Gen Z tidak berhenti pada ekonomi dan gaya hidup. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar: krisis tujuan hidup.
Ketika manusia tidak memiliki jawaban yang benar tentang siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan untuk apa ia hidup, maka kebahagiaan akan mudah direduksi menjadi kenikmatan sesaat. Ukuran keberhasilan berubah menjadi gaji, jabatan, jumlah pengikut, penampilan, barang yang dimiliki, tempat yang dikunjungi, atau pengakuan manusia.















