Padahal, manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kenyamanan materi. Manusia membutuhkan makna.
Islam memberikan jawaban yang berbeda tentang kehidupan. Allah SWT berfirman:
«“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56).
Ayat ini memberikan perspektif mendasar bahwa kehidupan manusia bukanlah sekadar mengejar kekayaan, kesenangan, popularitas, atau kepuasan duniawi. Kehidupan memiliki tujuan yang lebih tinggi, yaitu pengabdian kepada Allah SWT.
Dengan akidah yang kokoh, seorang Muslim tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Harta boleh dimiliki, kesenangan boleh dinikmati, dan keberhasilan duniawi boleh diraih, tetapi semuanya ditempatkan dalam kerangka pengabdian kepada Allah.
Karena itu, penyelesaian persoalan Gen Z tidak cukup hanya dengan mengajarkan cara mengatur keuangan atau meminta anak muda mengurangi healing. Kita perlu melihat akar persoalannya: sistem kehidupan seperti apa yang sedang membentuk generasi ini?
Islam tidak hanya membangun individu yang bertakwa, tetapi juga memiliki konsep kehidupan sosial dan ekonomi yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tanggung jawab negara. Sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum dikelola untuk kemaslahatan masyarakat, bukan sekadar menjadi sumber keuntungan bagi segelintir pihak. Negara juga memiliki tanggung jawab dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat dan menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh kehidupan yang layak.
Dalam perspektif Islam, generasi muda juga tidak semestinya hanya dipersiapkan menjadi konsumen pasar. Mereka harus dibentuk menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam, ilmu, visi, dan kepedulian terhadap umat. Media dan pendidikan semestinya menjadi sarana pembentukan masyarakat yang bermartabat, bukan mesin yang terus-menerus menanamkan konsumerisme, materialisme, dan pengejaran popularitas.
Di sinilah konsep negara dalam Islam, termasuk Khilafah dalam pemikiran politik Islam, dipandang sebagai bagian dari penerapan Islam secara menyeluruh. Tujuannya bukan sekadar mengganti nama sistem pemerintahan, tetapi menerapkan aturan Islam dalam berbagai aspek kehidupan dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasan.
Kegagalan sistem hari ini seharusnya tidak hanya dilihat dari satu-dua kebijakan yang salah. Kita perlu melihat dampaknya secara keseluruhan: ketika generasi muda merasa tidak aman secara ekonomi, ketika kebahagiaan semakin dikaitkan dengan konsumsi, ketika media sosial menciptakan tekanan untuk terus mengikuti tren, dan ketika banyak manusia kehilangan jawaban tentang tujuan hidupnya, maka kita patut bertanya apakah persoalannya memang hanya terletak pada individu.
Jangan sampai kita terus menyalahkan Gen Z karena dianggap terlalu konsumtif, terlalu banyak healing, atau kurang tahan menghadapi kesulitan, sementara kita tidak pernah bertanya sistem seperti apa yang membentuk cara berpikir mereka.
Gen Z tidak membutuhkan sekadar nasihat untuk “lebih kuat”. Mereka membutuhkan sistem kehidupan yang adil, pendidikan yang membentuk kepribadian, lingkungan yang menjaga mereka dari kerusakan, serta pemahaman yang benar tentang tujuan hidup.
Islam menawarkan paradigma yang berbeda: manusia bukan sekadar konsumen, rakyat bukan sekadar angka ekonomi, dan kebahagiaan bukan sekadar kemampuan membeli.
Kebahagiaan sejati adalah ketika manusia mengetahui tujuan hidupnya, menjalankan kehidupannya sesuai petunjuk Allah, dan menggunakan apa yang dimilikinya untuk meraih ridha-Nya.
Maka, pertanyaan bagi kita bukan lagi sekadar “mengapa Gen Z mudah lelah?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Mengapa sistem kehidupan yang kita jalani melahirkan generasi yang begitu lelah mencari kebahagiaan?”
Jika masalahnya bersifat sistemik, maka penyelesaiannya pun tidak cukup dengan perubahan perilaku individu. Kita membutuhkan perubahan paradigma: dari kehidupan yang menjadikan materi sebagai pusat, menuju kehidupan yang menempatkan pengabdian kepada Allah sebagai tujuan.
Sebab generasi yang memahami untuk apa ia hidup tidak akan mudah diperbudak oleh tren, konsumsi, popularitas, maupun tekanan dunia.
Mereka akan memiliki tujuan yang jauh lebih besar: menjadi hamba Allah dan membangun kehidupan yang sesuai dengan petunjuk-Nya.















