Kabarminang — Dugaan pelecehan yang dilakukan guru olahraga SMAN 1 Solok Selatan kepada siswa memicu aksi demonstrasi pelajar di halaman sekolah pada Senin (27/7/2026) usai upacara bendera. Dalam aksi itu, para siswa menuntut agar oknum guru tersebut diberhentikan dari jabatannya.
Peristiwa tersebut mencuat ke publik setelah sebuah video diunggah akun Instagram Infosolsel. Dalam video itu terlihat sejumlah pelajar membentangkan spanduk bertuliskan “Stop Penyimpangan”, poster bertuliskan “Stop LGBT”, serta memperlihatkan tangkapan layar percakapan yang diklaim sebagai komunikasi antara oknum guru dan seorang siswa.
Perihal hal itu, Kepala SMAN 1 Solok Selatan, Mairisna, mengatakan setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan, guru yang dimaksud dalam aksi tersebut berinisial VV, berusia sekitar 30 tahun dan telah menikah. Ia menyebut, saat ini VV telah dinonaktifkan dari seluruh kegiatan mengajar agar para siswa dapat kembali fokus mengikuti proses belajar-mengajar dengan tenang tanpa rasa cemas.
“Untuk menjaga kenyamanan siswa serta memastikan proses belajar-mengajar tetap kondusif, oknum guru berinisial VV saat ini telah kami nonaktifkan sementara dari kegiatan mengajar,” katanya kepada Sumbarkita, Rabu (29/7/2026).
Kendati demikian, ia menyebut narasi yang beredar di media sosial mengenai tuduhan tindakan sodomi atau pelecehan fisik oleh oknum guru tersebut tidak terbukti. Ia mengatakan, bukti yang ada sejauh ini hanya berupa tangkapan layar percakapan pesan singkat melalui aplikasi perpesanan di telepon seluler kepada tiga orang siswa laki-laki kelas 11.
“Isi pesan mengandung bentuk perhatian rutin yang dinilai janggal, seperti sapaan “Hai ganteng, sudah bangun?” dan pertanyaan “Sudah berbuka?”. Pengakuan VV menyebut bahwa pesan itu dikirim semata-mata karena merasa dekat dan menganggap para siswa seperti adik sendiri,” tuturnya.
Ia melanjutkan, percakapan tersebut kemudian diketahui oleh orang tua siswa saat memeriksa telepon seluler anak mereka. Temuan itu menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan bagi para orang tua karena dinilai tidak wajar dalam hubungan profesional antara guru dan murid.
“Aksi para siswa ini adalah bentuk penyampaian aspirasi atas ketidaknyamanan mereka. Namun, kami perlu tegaskan bahwa narasi perbuatan fisik atau pelecehan seksual yang viral di media sosial itu tidak benar dan tidak terbukti,” tuturnya.















