Kabarminang — Ketua Asosiasi Psikologi Forensik (APSIFOR) Perwakilan Sumatera Barat, Andhika Anggawira, menilai kasus ledakan bom rakitan yang diduga dibawa seorang siswa berinisial RF ke lingkungan MAN 3 Padang menjadi pengingat bagi semua pihak untuk memperkuat deteksi dini terhadap kondisi psikologis remaja dan mencegah perundungan di lingkungan sekolah.
Menurut Angga, berdasarkan pemberitaan yang beredar, siswa tersebut disebut tidak pernah mengadukan perundungan yang dialaminya kepada guru maupun guru bimbingan konseling (BK). Kondisi itu, kata dia, dapat terjadi ketika seseorang merasa tidak akan memperoleh respons yang diharapkan apabila menyampaikan masalahnya.
“Karena dia tidak ingin menimbulkan keributan. Mungkin dia dulu pernah melaporkan hal itu, tetapi berakibat buruk pada dirinya. Sehingga akhirnya di dalam persepsinya bahwa ya percuma saja saya mengadu. Toh saya tidak mendapatkan respons yang saya inginkan,” katanya kepada Sumbarkita, Rabu (15/7/2026).
Ia melanjutkan, dalam psikologi, kondisi itu dikenal sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari.
“Seseorang yang mengalami kondisi itu cenderung memilih memendam persoalan daripada mencari bantuan. Sehingga akhirnya apa yang dialami oleh dia dipendam-pendam. Orang memendam itu kayak gunung meletus,” ujarnya.
Angga menegaskan kondisi psikologis seseorang tidak selalu tampak dari perilaku sehari-hari. Karena itu, orang tua, guru, dan lingkungan sekitar perlu lebih peka terhadap perubahan sikap seorang remaja.
Ia menyebut, beberapa tanda yang perlu diperhatikan, antara lain anak menjadi lebih pendiam, prestasi akademiknya menurun, atau mulai menunjukkan ketakutan untuk pergi ke sekolah. Meski demikian, Angga menegaskan tidak semua remaja yang mengalami tekanan emosional akan bereaksi dengan cara yang sama.
“Tidak semuanya. Cuma ada orang-orang tertentu yang memang seperti itu,” ujarnya.
















