Kabarminang — Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat fenomena anomali berupa lonjakan kunjungan wisatawan darat yang kontras dengan penurunan tajam jumlah penumpang pesawat domestik di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) sepanjang Mei 2026.
Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin, memaparkan data perbandingan yang menunjukkan adanya pergeseran pola transportasi masyarakat. Ia menyebut bahwa perjalanan wisatawan nusantara naik. Namun, katanya, penumpang angkutan udara domestik yang berangkat dari BIM justru anjlok sebesar 30,44 persen.
Menurut Hasanudin, faktor utama yang melandasi ketimpangan data itu terletak pada pilihan moda transportasi yang digunakan oleh para pelancong. Ia menginformasikan bahwa sebagian besar pergerakan orang menuju ranah Minang kini tidak lagi bertumpu pada sektor kedirgantaraan.
“Hubungan antarindikator ini tidak selalu sejalan karena wisatawan nusantara saat ini lebih banyak melakukan mobilitas darat menggunakan kendaraan pribadi atau bus dari provinsi tetangga,” ujar Hasanudin di Padang pada Rabu (1/7/2026).
Hasanudin menyampaikan bahwa kondisi tersebut diperparah oleh situasi industri penerbangan nasional yang belum stabil, khususnya terkait beban operasional maskapai. Ia menyebut bahwa lonjakan biaya produksi di lini hulu berimbas langsung pada harga jual kepada konsumen akhir.
Menurut Hasanudin, tingginya harga avtur menjadi pemicu utama tarif tiket pesawat domestik melonjak sangat mahal hingga menyentuh angka Rp1,7 juta per orang. Ia mengatakan bahwa dampak lonjakan harga tiket itu langsung memukul daya beli dan minat beli masyarakat secara luas. Ia menyebut bahwa konsumen secara rasional mulai mencari opsi perjalanan lain yang tidak membebani anggaran rumah tangga mereka.
“Melambungnya harga tiket pesawat tersebut otomatis menurunkan permintaan masyarakat terhadap transportasi udara secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir,” tuturnya.
Sebagai gantinya, kata Hasanudin, industri otobus jarak jauh justru mendapat berkah dari peralihan pasar itu. Ia mengatakan bahwa kehadiran armada bus modern dengan fasilitas premium kini menjadi primadona baru bagi para pelaku perjalanan antarkota dan antarprovinsi.
















