“Masyarakat kini lebih memilih alternatif transportasi seperti bus sleeper tujuan Jakarta dengan kisaran harga Rp700 ribu hingga Rp900 ribu karena dinilai representatif serta nyaman untuk perjalanan keluarga,” ucap Hasanudin.
Hasanudin menginformasikan bahwa jumlah perjalanan wisatawan Nusantara dengan tujuan Sumbar pada Mei 2026 tercatat sebanyak 2.004.175 perjalanan atau tumbuh 6,21 persen secara bulanan.
Kondisi berbeda, kata Hasanudin, terlihat pada arus kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu masuk BIM yang justru meroket 34,68 persen menjadi 7.717 kunjungan, dengan total kumulatif Januari-Mei 2026 mencapai 30.092 kunjungan.
“Peningkatan arus wisatawan domestik lewat jalur darat ini berhasil menaikkan tingkat penghunian kamar hotel bintang menjadi 46,17 persen berkat dukungan berbagai acara seperti wisuda dan pernikahan,” kata Hasanudin.
Menurutnya, meskipun hotel bintang mengalami pertumbuhan okupansi, tingkat penghunian kamar untuk hotel nonbintang di Sumbar justru merosot sebesar 0,91 persen poin hingga berada pada level 16,92 persen.
Dari sektor transportasi udara, kata Hasanudin, jumlah keberangkatan penumpang domestik dari BIM tercatat menurun drastis menjadi 60,35 ribu orang. Sementara itu, volume kedatangan penumpang domestik juga melemah tipis sebesar 1,65 persen.
“Meskipun angkutan udara domestik melemah akibat harga tiket, aktivitas logistik pada sektor angkutan laut domestik kita justru menunjukkan tren yang sangat positif,” ujar Hasanudin.
Di sisi lain, BPS Sumbar mencatat bahwa sektor angkutan laut mencatat pertumbuhan volume barang yang dimuat sebesar 25,83 persen menjadi 286,15 ribu ton, sedangkan volume barang yang dibongkar ikut naik sebesar 6,57 persen.
















