Kabarminang — Sumatera Barat (Sumbar) mencatatkan tingkat inflasi bulanan (month-to-month) 0,90 persen pada Mei 2026. Angka itu tertinggi di antara 10 provinsi di Sumatra sekaligus berada jauh di atas rata-rata nasional, yang hanya sebesar 0,28 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Nurul Hasanudin, memaparkan bahwa lonjakan itu dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kebutuhan pokok warga.
“Tekanan inflasi bulanan kita di Sumbar pada Mei ini mencapai 0,90 persen, yang didorong oleh tingginya harga komoditas pangan di pasar tradisional,” ujar Nurul saat memberikan keterangan resmi di Padang pada Selasa (2/6/2026).
Jika merujuk pada perbandingan data regional Sumatra, kata Nurul, posisi Sumbar berada di urutan teratas dalam hal laju inflasi bulanan.
“Berdasarkan rilis BPS Nasional, laju inflasi bulanan kita mengungguli daerah lain, seperti Sumatera Utara sebesar 0,89 persen, Bengkulu 0,86 persen, Lampung 0,82 persen, Riau 0,76 persen, Jambi 0,75 persen, Sumatera Selatan 0,61 persen, Aceh 0,60 persen, Kepulauan Riau 0,38 persen, dan Kepulauan Bangka Belitung yang berada di posisi terendah sebesar 0,06 persen,” ucapnya.
Nurul menjabarkan bahwa pergerakan inflasi tahunan (year-on-year) Sumbar saat ini telah menyentuh angka 3,91 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) bertengger pada level 112,94.
“Tingkat inflasi tahunan yang mencapai 3,91 persen ini sudah melewati ambang batas ideal target nasional yang berada di kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen sehingga membutuhkan perhatian khusus dari kita semua,” tuturnya.
Nurul mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor penggerak utama inflasi bulanan di Sumbar dengan kenaikan sebesar 1,73 persen dan menyumbang andil total 0,58 persen.
















