“Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi bulanan tertinggi mencapai 1,03 persen yang dipicu komoditas cabai, diikuti Kota Padang sebesar 0,92 persen, Dharmasraya 0,91 persen, dan Kota Bukittinggi menjadi yang terendah yaitu sebesar 0,44 persen,” tuturnya.
Meskipun situasi inflasi bulanan dan tahunan sedang mengalami tekanan berat, kata Nurul, performa laju inflasi tahun kalender (year-to-date) secara umum dinilai masih aman.
“Inflasi tahun kalender kita berada di angka 0,47 persen, yang kami harapkan bisa menjadi parameter fundamental yang kuat bagi pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas pergerakan harga dari bulan ke bulan,” ucapnya.
Nurul menyarankan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) segera merumuskan langkah taktis intervensi pasar guna memotong rantai distribusi pangan yang dinilai menjadi pemicu utama lonjakan harga di Sumbar.
“Kita harus segera memperlancar pasokan dari sentra produksi ke pasar konsumen agar daya beli masyarakat Sumatera Barat tetap terjaga dengan baik sepanjang pertengahan tahun ini,” tutur Nurul.
















