“Komoditas yang paling dominan dalam kelompok pangan ini adalah cabai merah, yang mengalami lonjakan harga sangat ekstrem hingga mencatatkan inflasi sebesar 26,03 persen dengan andil langsung sebesar 0,4 persen,” kata Nurul.
Nurul mengutarakan baha kelompok pengeluaran lain yang ikut memberikan kontribusi inflasi cukup signifikan di tengah masyarakat ialah sektor penyediaan makanan dan minuman atau restoran.
“Kelompok restoran mengalami inflasi sebesar 1,57 persen dengan andil sebesar 0,17 persen, yang mana kenaikan harga ini utamanya dipicu oleh penyesuaian tarif menu nasi dengan lauk di warung-warung makan,” tuturnya.
Selain pangan dan restoran, kata Nurul, sejumlah sektor pengeluaran rumah tangga juga terpantau bergerak naik serentak pada bulan ini.
“Inflasi juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; perlengkapan dan peralatan rumah tangga; serta sektor kesehatan, transportasi, informasi, hingga rekreasi, sedangkan untuk sektor pendidikan stabil,” ujarnya.
Nurul memaparkan bahwa di tengah rentetan kenaikan harga barang tersebut, untungnya masih ada beberapa komoditas pokok yang mengalami penurunan harga atau deflasi sehingga mampu menahan laju inflasi agar tidak semakin liar.
“Harga daging ayam ras tercatat mengalami deflasi sebesar minus 0,13 persen, emas perhiasan minus 0,03 persen, dan kelompok perawatan pribadi serta jasa lainnya juga ikut menyumbang deflasi,” ucapnya.
Nurul menginformasikan bahwa pergerakan inflasi bulanan terjadi merata di seluruh wilayah pemantauan IHK di Sumbar, dengan fluktuasi tertinggi berada di wilayah pesisir barat.
















