Kabarminang – Sejak berabad-abad lalu, Pulau Sumatra dikenal dengan sebutan Swarnadwipa atau “Pulau Emas”. Julukan itu bukan sekadar catatan sejarah kuno, melainkan menggambarkan kekayaan mineral emas yang memang tersebar luas di berbagai wilayah Sumatra, termasuk Sumatera Barat. Hingga kini, kandungan emas di Sumbar masih menjadi salah satu yang paling aktif ditambang masyarakat, terutama jenis emas aluvial yang banyak ditemukan di aliran sungai dan kawasan kaki perbukitan.
Fenomena maraknya Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) atau ilegal di Sumbar dalam beberapa tahun terakhir disebut tidak lepas dari melimpahnya endapan emas aluvial tersebut. Aktivitas tambang ilegal bahkan terus bertahan di tengah berbagai operasi penertiban karena cadangan emas dinilai masih sangat besar dan mudah diakses masyarakat.
Ahli Pertambangan Universitas Negeri Padang, Faris Aditya, menyebut Sumbar memang memiliki karakter geologi yang kaya emas sejak lama. Menurutnya, emas di daerah ini terbentuk melalui proses alam yang berlangsung selama jutaan tahun.
“Sumatera itu secara historis dikenal sebagai Swarnadwipa yang berarti Pulau Emas. Jadi tidak bisa kita pungkiri bahwa negeri kita memang kaya akan emas,” ujarnya dalam diskusi “Advokat Sumbar Bicara” di Padang TV, Jumat (22/5/2026).
Apa Sebenarnya Emas Aluvial?
Secara ilmiah, emas aluvial merupakan emas sekunder yang berasal dari batuan induk di pegunungan. Material emas tersebut terlepas akibat proses erosi, longsor, hujan, dan aktivitas alam lainnya, lalu terbawa arus sungai hingga mengendap di dasar sungai, lembah, atau dataran rendah.
Karena sifat emas yang berat, butiran logam itu biasanya terkumpul di titik tertentu yang memiliki arus lebih tenang. Itulah sebabnya kawasan sungai di pedalaman Sumbar menjadi lokasi utama aktivitas PETI.
Faris menjelaskan wilayah seperti Sijunjung, Sawahlunto, Pasaman Raya, hingga Solok Selatan dikenal memiliki endapan emas aluvial yang cukup besar. Menurutnya, karakter emas di daerah tersebut berbeda dengan emas primer yang masih berada di batuan keras pegunungan.
“Emas di Sijunjung, Sawahlunto, Pasaman Raya, dan Solok Selatan itu jenis aluvial yang terbawa air dari gunung ke sungai, makanya sejak saya kuliah dulu ditambang tidak habis-habis,” katanya.
Mengapa Emas di Sumbar Seolah Tidak Pernah Habis?
Secara geologi, Sumbar berada di jalur Bukit Barisan yang merupakan kawasan aktif pembentukan mineral logam akibat tumbukan lempeng tektonik selama jutaan tahun. Kondisi itu membuat banyak wilayah di Sumbar memiliki sistem mineralisasi emas alami.















