Kabarminang — Dua hari belakangan ini masyarakat dihebohkan dengan adanya informasi keberadaan kelenteng di Pulau Batu Buayo, dekat Pulau Cubadak, Nagari Sungai Nyalo Mudiak Aia, Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Rumah ibadah umat Konghucu tersebut berdiri di pulau yang merupakan objek wisata itu.
Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, membenarkan bahwa bangunan di Pulau Batu Buayo itu kelenteng. Ia menyebut bahwa investor membangun rumah ibadah itu sebagai daya tarik wisata.
“Pulau itu sudah dibeli oleh investor orang Cina Padang. Sudah ada sertifikat hak miliknya. Dia membangun objek wisata pantai di sana. Kelenteng itu salah satu daya tarik objek wisata tersebut,” tutur Hendrajoni kepada Sumbarkita melalui telepon WhatsApp pada Selasa (21/4/2026).
Hendrajoni menerangkan bahwa investor membangun kelenteng itu untuk wisatawan dari negara penganut Konghucu, seperti wisatawan dari Thailand dan Tiongkok. Ia menyebut bahwa wisatawan perlu beribadah. Karena itu, katanya, investor menyediakan tempat ibadah bagi wisatawan.
“Di pulau itu juga akan dibangun masjid bagi wisatawan muslim,” tutur Hendrajoni.
Hendrajoni menginformasikan bahwa investor akan membuat ojek wisata pantai di pulau itu seperti di Maldives (Maladewa). Ia menyebut bahwa nilai investasinya sekitar Rp300 miliar. Dari dokumen Peta Hasil Pemanfaatan Ruang yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pemkan Pesisir Selatan, di pulau itu akan dibangun glamping, stable kuda, restoran, cottage, sarana olahraga, dan sarana pendukung lainnya.
“Izin pembangunannya dari pemerintah provinsi,” ucap Hendrajoni.
Hendrajoni mengatakan bahwa masuknya investor seperti ke Pesisir Selatan akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pendapatan asli daerah. Karena itu, ia meminta masyarakat untuk tidak mempersoalkan keberadaan kelenteng di pulau itu. Alasannya, kelenteng tersebut hanyalah sarana pendukung bagi objek wisata pantai itu.
“Kita harus berpikiran terbuka. Jangan kita berpikir bahwa dengan adanya kelenteng di sana, akan ada penyebaran agama Konghucu. Kelenteng itu untuk umat Konghucu, bukan untuk umat Islam. Di Padang ada nggak Kelenteng? Ada. Tetapi, tidak ada orang Islam di Padang yang pindah agama ke Konghucu,” ucap Hendrajoni.
Ia menambahkan bahwa suatu daerah akan sulit berkembang jika hanya mengandalkan dana APBD. Karena itu, katanya, dibutuhkan investor untuk ikut membangun daerah dengan membuka tempat usaha sehingga tercipta lapangan pekerjaan dan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.
















