Kabarminang — Sidang lanjutan perkara dugaan pembunuhan berencana disertai mutilasi terhadap tiga perempuan kembali digelar di Pengadilan Negeri Pariaman, Kamis (19/2). Sidang ini dipimpin Hakim Ketua Yulanto Prafifto Utomo, jaksa penuntut umum menghadirkan ahli forensik Rosmawati untuk memaparkan hasil autopsi dan analisis kerangka para korban.
Terdakwa dalam perkara ini adalah Satria Juhanda (25), alias Wanda, warga Korong Lakuak, Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Ia didakwa membunuh dan memutilasi Septia Adinda (25), serta menghilangkan nyawa dua perempuan lain, yakni Siska Oktavia Rusdi alias Cika (23) dan Adek Gustiana (24).
Kasus ini mencuat setelah warga menemukan potongan tubuh perempuan tanpa kepala, tangan, kaki, dan alat kelamin di aliran Sungai Batang Anai, Selasa (17/6). Usai dilakukan otopsi dan uji, potongan tersebut merupakan korban Septia Adinda.
Dalam persidangan, ahli forensik Rosmawati menjelaskan bahwa penyebab kematian korban mutilasi adalah benda tumpul di kepala. Ia melanjutkan, terdakwa melakukan mutilasi setelah korban meninggal dunia.
“Hal itu disimpulkan karena tidak ditemukan resapan darah pada bagian tubuh yang dimutilasi, maka tindakan itu dilakukan setelah korban meninggal. Potongan tubuh tergolong rapi, kecil kemungkinan pemotongan dilakukan dengan pisau biasa,” ujarnya.
Dua Kerangka di Sumur Tua
Selain kasus mutilasi Septia, penyelidikan berkembang setelah terdakwa mengakui telah membunuh dua perempuan lain sekitar 1,5 tahun sebelumnya. Jasad keduanya dikubur di dalam sumur tua di belakang rumahnya, di Padang Pariaman.
Rosmawati mengatakan, saat ditemukan tulang-belulang, kedua korban sempat bercampur.















