Kabarminang – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang mendeteksi sebanyak 293 anomali termal (hotspot) dan perkiraan 440,91 hektare jejak kebakaran hutan dan lahan (fire footprint) di Sumatera Barat sepanjang Agustus hingga September 2026.
Penanggung Jawab Isu Ruang Hidup dan Gerakan Rakyat LBH Padang, Habieb Aulia Sufi, mengatakan temuan tersebut didapat dari analisis citra satelit Landsat pada 8 September 2026 menggunakan metode Binary Spectral Thresholding.
“Data 440,91 hektare ini merupakan perkiraan awal indikasi fisik perubahan lahan berbasis citra satelit yang membandingkan kondisi prakebakaran dengan periode Agustus–September 2026,” ujarnya, Selasa (8/9/2026).
Ia mengatakan angka indikasi awal tersebut masih memerlukan verifikasi langsung atau uji lapangan (ground truth) untuk memastikan luasan pasti kerusakan di tapak.
Berdasarkan analisis bentang lahan, mayoritas area terdampak berada pada tutupan vegetasi pohon yang mencapai luas 420,44 hektare dari total jejak kebakaran.
“Sisa area yang terbakar meliputi grassland atau area terbuka seluas 18,86 hektare, shrubland (semak belukar) 0,89 hektare, cropland (lahan pertanian) 0,09 hektare, dan area terbangun 0,63 hektare,” tutur Habieb.
Ia melanjutkan, seluruh fire footprint tersebut beririsan dengan kawasan hutan. Sebanyak 152,75 hektare berada di konsesi sawit dan 20,36 hektare di area Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
“Areal perkebunan PT Mundam Sijunjung Sakti menjadi entitas bisnis dengan irisan terbesar seluas 151,36 hektare, sedangkan di sektor PBPH berada di PT Sukses Jaya Wood seluas 20,19 hektare,” katanya.















