Kabarminang — Jumlah titik panas (hotspot) di Sumatera Barat (Sumbar) turun secara signifikan sebesar 55,6 persen pada pertengahan Agustus 2026 berdasarkan data SIPONGI Kementerian Kehutanan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, Tasliatul Fuaddi, menyatakan bahwa penurunan tersebut terpantau dari perbandingan dua periode pengamatan pada Agustus.
”Data resmi per 23 Agustus menunjukkan ada 103 titik panas di Sumbar, berkurang 129 titik dibandingkan periode 1 hingga 13 Agustus yang mencapai 232 titik,” ujar Fuaddi kepada Kabarminang.com pada Selasa (25/8/2026).
Fuaddi mengatakan bahwa timnya masih memverifikasi pembaruan data titik panas per 24 Agustus untuk memastikan kondisi faktual di setiap daerah.
Ia menginformasikan bahwa pergeseran sebaran titik panas juga terjadi antardaerah. Pesisir Selatan mencatat 84 titik pada awal Agustus berhasil turun drastis menjadi 11 titik. Namun, katanya, kini konsentrasi titik panas terbanyak beralih ke Dharmasraya yang naik dari 32 menjadi 39 titik akibat aktivitas pembukaan lahan perkebunan.
Sementara itu, mayoritas kabupaten lain mencatatkan tren penurunan, seperti Pasaman yang turun menjadi 18 titik, Sijunjung menjadi 5 titik, Lima Puluh Kota menjadi 12 titik, Pasaman Barat menjadi 9 titik, dan Solok Selatan menjadi 7 titik.
Fuaddi mengatakan bahwa kondisi nihil titik panas pada periode kedua berhasil dicapai oleh Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, dan Sawahlunto, sementara Kabupaten Solok bertahan stabil pada tiga titik.
Perihal sumber titik panas, Fuaddi mengatakan bahwa titik panas bersumber dari kebakaran semak belukar dan pembersihan lahan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.














