“Ini bukan soal organisasi besar atau kecil. Ini soal nyawa dan kemanusiaan. Kami tidak tega melihat orang tua Beni kebingungan di rantau,” ucap Rizky.
Pihakknya akhirnya memutuskan untuk memulangkan Beni dengan ambulans milik organisasi, lengkap dengan tenaga medis.
“Kami siapkan ambulans dan tenaga medis semampu kami. Yang penting anak ini bisa pulang dengan aman,” katanya.
Persiapan teknis pemulangan ditangani Sekretaris Gempar Kepri, Nasrul Geboy, bersama tim. Rencananya, Selasa (30/12) siang, mereka akan memberangkat Beni menuju Tanah Datar melalui jalur darat dan laut, melewati Pelabuhan Punggur dan Buton.
Beni Afriadi merupakan warga Jorong Sikabu, Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, Tanah Datar. Perihal sakit Beni, Yuliardi menceritakan bahwa anak bungsunya tersebut merantau ke Batam pada 2024 untuk bekerja agar bisa membantu orang tua. Ia kemudian pergi ke Batam pada Juni, lalu bekerja sebagai buruh lepas di sebuah galangan kapal.
Pada awal Desember 2025 Beni jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. Menurut diagnosis dokter, Beni sakit serius: paru-paru basahnya telah mempengaruhi bagian kepala. Tak lama berselang, Beni koma.
Kabar itu sampai ke kampung halaman. Namun, Yuliardi dan Fitira tidak memiliki uang untuk pergi ke Batam karena mereka berasal dari keluarga sederhana.
Berkat bantuan warga, mereka akhirnya punya uang untuk berangkat ke Batam. Setibanya di sana, mereka mendapati Beni terbaring tak sadarkan diri di ruang ICU Rumah Sakit Mutiara Aini.
“Waktu saya lihat anak saya di ICU, rasanya dunia runtuh. Dia cuma terbaring, tidak sadar sama sekali,” ujar Yuliardi dengan suara yang terdengar lirih.
















