“Saya sudah ikhlas. Apa pun yang terjadi nanti, itu tanggung jawab saya sebagai orang tua. Tidak ada tuntutan ke siapa pun,” ujarnya.
Terkendala biaya ada pada orang tua yang menunggu Beni di rumah sakit. Di kota yang asing, tanpa sanak saudara, pasangan suami istri itu bertahan dengan segala keterbatasan. Untuk makan sehari-hari saja, mereka mengandalkan bantuan orang-orang kampung dan sesama perantau.
“Kami tidur di sekitar rumah sakit. Mau ke mana lagi? Untuk makan pun kami menunggu kiriman bantuan dari kampung,” kata Yuliardi.
Karena desakan ekonomi, Yuliardi mengambil keputusan berat membawa Beni pulang ke Tanah Datar. Ia mengambil keputusan itu bukan tanpa pertimbangan.
“Bukan kami menyerah. Kami ingin anak kami dekat keluarga. Kalau di kampung, kami bisa jaga bergantian dan saya bisa bekerja cari uang,” ucap Yuliardi.
Yuliardi mengatakan bahwa rumah sakit mengizinkan pemulangan Beni. Namun, ia terkendala biaya pemulangan tersebut karena tingginya biaya pemulangan lewat jalur udara. Adapun pemulangan lewat jalur laut dan darat memakan waktu lama dengan ongkos yang juga tidak sedikit.
Di tengah kebuntuan itu, solidaritas perantau bergerak. Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Batu Aji bersama Generasi Muda Pariaman (Gempar) Kepulauan Riau turun tangan membantu biaya pemulangan itu. Ikatan Keluarga Padang Panjang, Batipuh, dan X Koto (Ikapabasko) juga dilibatkan untuk membantu pemulangan Beni meski tidak secara finansial.
Ketua Gempar Kepri, Rizky Fernando Koto, mengatakan bahwa pihaknya membantu pemulangan Beni atas dasar kemanusiaan.
















