Ia melanjutkan, jenazah IP tidak dilakukan visum maupun autopsi karena pihak rumah sakit menyatakan kondisi meninggalnya korban secara wajar dan tidak terindikasi apa pun.
“Setelah tumbang di tempat hiburan malam itu, adik saya dibawa temannya ke Rumah Sakit Tentara. Pihak rumah sakit mengeluarkan hasil bahwa adik saya meninggal secara wajar. Meskipun begitu, kami sebelumnya telah meminta agar dilakukan visum, tetapi ditolak,” sebutnya.
Ia meminta informasi mengenai penyebab kematian IP tidak disimpulkan secara sepihak tanpa dasar pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia juga meminta media dan pengguna media sosial menghentikan penyebaran foto serta video kondisi korban.
“Kami sudah terpukul dengan kehilangan adik kami, tetapi semakin terpukul melihat foto dan video yang beredar tanpa diburamkan serta mencantumkan nama lengkap korban. Bahkan informasi yang disebarkan juga tidak benar,” katanya.
Ia meminta kepada pengguna media sosial terkait video yang beredar maupun foto IP dihapus dan tidak dibagikan ulang.
“Kami berharap video dan informasi di media sosial itu dihapus dan tidak disebarluaskan. Kasihan adik kami baru meninggal, orangnya sudah tidak ada, tetapi di mana-mana sekarang orang membahas dia. Jadi, hentikanlah semua pemberitaan-pemberitaan yang tidak benar mengenainya, biarkan adik kami tenang,” tuturnya.
Selain itu, ia juga membantah bahwa IP merupakan warga Pesisir Selatan sebagaimana yang dinarasikan di media sosial. Ia menyebut, IP merupakan warga Padang.
“Kami orang Padang, lahir di Padang, orang tua kami membeli tanah di kawasan Kelurahan Banuaran Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, sedangkan yang Pesisir Selatan itu ayah kami,” tuturnya.















