Kabarminang – Sebanyak 1.607 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Sumatra. Dari jumlah tersebut, Sumatra Barat (Sumbar) tercatat memiliki 40 titik panas, berdasarkan data pemantauan hotspot yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Data tersebut menunjukkan tingginya aktivitas titik panas di sejumlah wilayah Sumatra dalam pemantauan terbaru. Sumbar berada di antara provinsi yang mencatat puluhan hotspot, meski jumlahnya masih jauh di bawah provinsi dengan sebaran tertinggi.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, pada Selasa (8/9/2026) mengatakan jumlah hotspot di Sumatra masih cukup tinggi berdasarkan hasil pemantauan.
Sumatra Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot paling banyak, yakni mencapai 1.038 titik. Angka tersebut mendominasi sebaran hotspot di Pulau Sumatra.
Setelah Sumatra Selatan, Riau tercatat memiliki 150 hotspot, kemudian Jambi 135 titik, Bangka Belitung 85 titik, Lampung 73 titik, Kepulauan Riau 57 titik, dan Sumatra Barat 40 titik.
Sementara itu, sejumlah provinsi lainnya mencatat jumlah hotspot yang lebih rendah. Aceh terdeteksi 13 titik panas, Sumatra Utara 10 titik, sedangkan Bengkulu tercatat enam titik.
Dengan catatan 40 hotspot, Sumbar menjadi salah satu wilayah yang turut masuk dalam peta sebaran titik panas di Sumatra. Angka tersebut menjadi bagian dari total 1.607 hotspot yang terdeteksi di berbagai provinsi di pulau tersebut.
Tingginya jumlah titik panas di Sumatra menjadi perhatian dalam pemantauan kondisi lingkungan dan potensi kebakaran hutan dan lahan. Sebaran hotspot sendiri menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat adanya indikasi panas di permukaan yang perlu ditindaklanjuti dengan pemantauan lapangan.
Data hotspot juga perlu dibaca secara hati-hati karena titik panas tidak serta-merta berarti telah terjadi kebakaran. Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu yang terdeteksi oleh sensor satelit dan perlu dikonfirmasi dengan kondisi di lapangan.
Bagi Sumbar, keberadaan 40 titik panas tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki kondisi vegetasi dan cuaca yang mendukung munculnya titik api.















