Kabarminang -Salat Tarawih menjadi salah satu ibadah yang paling dinanti umat Islam selama bulan ramadan. Meski dapat dikerjakan sendiri di rumah, mayoritas ulama (jumhur fukaha) menilai pelaksanaannya secara berjamaah di masjid lebih afdal karena memiliki keutamaan dan hikmah yang lebih luas, baik secara spiritual maupun sosial.
Pandangan tersebut dijelaskan dalam buku Paham Hisab Muhammadiyah dan Tuntunan Ibadah Bulan Ramadan yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2016).
Pahala Berlipat dalam Salat Berjamaah
Dilansir dari laman Muhammadiyah, salah satu keutamaan Tarawih berjamaah adalah peluang mendapatkan pahala yang lebih besar. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Umar, Nabi Muhammad saw bersabda bahwa salat berjamaah lebih utama dibandingkan salat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
Keutamaan ini menjadi dasar kuat mengapa jumhur ulama menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan Tarawih secara berjamaah, terutama di masjid.
Memakmurkan Masjid dan Mendapat Naungan Allah
Tarawih berjamaah juga memupuk kecintaan kepada masjid. Orang yang hatinya terpaut dengan masjid termasuk dalam tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari kiamat. Hadis tentang tujuh golongan tersebut diriwayatkan antara lain oleh Abu Hurairah dan dicatat dalam riwayat Imam al-Bukhari serta Imam Muslim.
Dengan rutin menghadiri Tarawih di masjid, umat Islam tidak hanya memperoleh pahala salat berjamaah, tetapi juga membangun kedekatan spiritual dengan rumah Allah.
Wahana Belajar dan Syiar Ramadan
Selain bernilai ibadah, Tarawih berjamaah menjadi sarana pembelajaran agama. Di banyak masjid, ceramah atau kultum disampaikan sebelum atau sesudah salat. Momentum ini menjadi ruang bagi jamaah untuk menambah wawasan keislaman dan memperdalam pemahaman tentang Ramadan.
Kehadiran jamaah yang ramai di masjid juga menyemarakkan suasana Ramadan sebagai bulan penuh berkah. Aktivitas ibadah yang dilakukan bersama-sama menghadirkan nuansa kebersamaan dan kekhusyukan yang lebih terasa.
Menguatkan Silaturahim
Salat Tarawih berjamaah turut mempererat tali silaturahim antarwarga. Pertemuan rutin setiap malam Ramadan menciptakan interaksi sosial yang positif di lingkungan sekitar masjid. Kebersamaan dalam qiyam Ramadan memperkuat ukhuwah dan solidaritas sesama muslim.
Teladan Nabi Muhammad saw
Anjuran Tarawih berjamaah juga merujuk pada praktik Rasulullah saw. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah, disebutkan bahwa Nabi pernah melaksanakan salat malam di masjid dan diikuti para sahabat. Jumlah jamaah bertambah pada malam berikutnya. Namun pada malam selanjutnya, Nabi tidak keluar karena khawatir salat tersebut diwajibkan atas umatnya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Tarawih berjamaah pernah dicontohkan oleh Nabi, sekaligus menegaskan bahwa kekhawatiran beliau bukan pada pelaksanaannya, melainkan pada kemungkinan diwajibkannya ibadah tersebut.
Dengan berbagai keutamaan dan hikmah itu, jumhur ulama memandang Tarawih berjamaah sebagai pilihan yang lebih utama. Meski salat sendiri tetap sah, melaksanakannya di masjid bersama jamaah dinilai lebih membawa manfaat spiritual dan sosial selama bulan Ramadan.















