Kabarminang — Sebuah momen unik dan langka mewarnai penutupan prosesi wisuda periode II tahun akademik 2025/2026 Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang di UPI Convention Center pada Kamis (21/5/2026). Setelah upacara pemindahan kuncir toga yang sakral selesai digelar, perhatian seluruh wisudawan dan orang tua mendadak tersedot oleh aksi spontan rektor yang membeli secara tunai karya tugas akhir mahasiswa di lokasi acara.
Rektor UPI YPTK Padang, Muhammad Ridwan, secara terbuka melayangkan pujian kepada Mutiara Sukma, wisudawan Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV). Ia mengapresiasi karya wisudawan tersebut, yang merancang sebuah terobosan alat peraga yang dinilai aplikatif dan bermanfaat luas bagi masyarakat.
“Kami memberikan apresiasi kepada mahasiswa Desain Komunikasi Visual yang telah menghasilkan sebuah karya kreatif yang memiliki dampak positif bagi masyarakat,” ucap Ridwan setelah pelaksanaan wisuda.
Ridwan memaparkan bahwa produk buatan mahasiswa DKV itu berwujud media pembelajaran interaktif yang diberi nama Hocus Focus. Ia mengatakan bahwa sistem instruksional tersebut menerapkan metode belajar sambil bermain, yang dikemas dalam bentuk board game edukatif.
Ia menilai kehadiran inovasi itu sebagai bukti konkret dari ketajaman kreativitas mahasiswa dalam menyuguhkan formulasi pendidikan yang jauh lebih atraktif dan menyenangkan bagi dunia anak-anak. Atas penemuan itu, ia mengatakan bahwa sivitas akademika terbukti mampu melampaui batasan teori di ruang kuliah.
“Mahasiswa Desain Komunikasi Visual tidak hanya fokus pada aspek desain semata, tetapi juga mampu menciptakan produk pembelajaran yang interaktif dan edukatif melalui board game,” tutur Ridwan.
Melalui pemanfaatan alat peraga interaktif itu, kata Ridwan, anak-anak yang berada pada kelompok usia sekitar tujuh tahun ke atas dibantu untuk menguasai kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Ia mengatakan bahwa pendekatan modern yang disuntikkan ke dalam permainan papan ini, sengaja dirancang agar dinamika belajar tidak berlangsung monoton.
“Anak-anak belajar calistung bukan lagi dengan cara konvensional, melainkan melalui permainan edukatif yang dirancang secara kreatif oleh mahasiswa,” ucap Ridwan.















