MR mengetahui bahwa anaknya diduga dicabuli oleh RT pada Minggu (5/4/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu lansia tersebut baru keluar dari RSUP M. Djamil. MR menunggui mertuanya itu di rumah sakit selama dirawat lima hari.
Di dalam mobil selama perjalanan dari rumah sakit ke rumah, kata MR, ia melihat kakek tersebut memegang-megang paha anaknya. Setibanya di rumah kakek, mertuanya itu juga memegang-megang anak tersebut di dalam kamar. Karena melihat perlakuan pria lansia itu, ia curiga anaknya diapa-apakan oleh si kakek sebab anak tersebut sering dititipkan di sana oleh suaminya.
Setibanya di rumah kontrakannya, MR bertanya kepada anak perempuannya tentang apa yang dilakukan kakek tersebut kepada anak perempuannya itu selama ini. Dengan kepolosannya, sang anak bercerita bahwa si kakek menggesek-gesekkan alat kelaminnya ke alat kelamin anak itu, juga melakukan seks oral di mulut anak tersebut sampai keluar cairan putih.
“Menurut cerita anak saya, dia sudah sering dicabuli oleh kakeknya di rumah kakek tersebut dari 2024 sampai 2026. Saking seringnya, anak saya tidak ingat jumlahnya. Pertama kali kakek mencabulinya pada akhir 2024. Saat itu saya menemani mertua perempuan saya yang sedang dirawat di rumah sakit, sedangkan anak saya dibawa oleh suami saya ketika itu ke rumah ayahnya. Pada malam hari di kamar rumah itu anak saya, menurut cerita dia, dicabuli oleh kakeknya. Ayahnya entah pergi ke mana waktu itu, saya tidak tahu,” tutur MR kepada Kabarminang.com pada Selasa (5/5/2026).
Akibat sering dicabuli, kata MR, anak tersebut sering ketakutan, kadang-kadang berbicara sendiri, sering bermenung, dan tidak ceria. Ia menyebut bahwa anaknya, yang duduk di bangku kelas 3 SD, juga tidak bersekolah karena ia larang.
“Sebelum kakek itu ditangkap, saya melarang anak saya untuk bersekolah,” tutur MR.
Setelah mendengarkan cerita anaknya tentang dugaan pencabulan itu, MR membahas hal tersebut dengan suaminya waktu itu. Namun, kata MR, suaminya tidak ingin memperpanjang masalah itu. Ia mengungkapkan bahwa suaminya meminta MR untuk tidak menceritakan masalah itu kepada siapa pun. Adapun soal anak, suaminya mengatakan kepadanya bahwa ia tidak akan membawa anaknya pergi rumah si kakek.
“Anak dicabuli oleh mertua, tapi suami tidak peduli. Keluarganya juga tidak meminta maaf kepada saya. Saya hanya disuruh diam. Saya struk memikirkan perlakuan mertua saya kepada anak saya, ditambah dengan dengan sikap suami saya kepada saya. Ketika saya struk, dia menceraikan saya dan meninggalkan saya ketika saya banyak masalah,” tutur MR.
MR berharap polisi segera menangkap mertuanya itu agar ia dan anaknya mendapatkan keadilan.
















