Surat itu ditujukan kepada kapolsek atau kapolres, atau pihak terkait. Surat tersebut ditandatangani oleh ketua Pengurus Masjid Hidayatullah, Darmawi, dan Sekretaris Pengurus Masjid Hidayatullah, Beni Andika Putra, serta diketahui oleh Wali Nagari Jinang Kampung Pansur, Nasra Tasar.
Perihal itu, Rafi mengatakan bahwa mereka memang berencana untuk menggunakan masjid tersebut sebagai titik kumpul. Namun, karena tempat ibadah itu tidak boleh digunakan sebagai titik kumpul, pihaknya akan menjadikan jembatan panjang Tarusan di Sawah Liat, Simpang Capil, sebagai titik kumpul.
Seminggu belakangan ini masyarakat Pesisir Selatan dihebohkan dengan adanya informasi keberadaan kelenteng di Pulau Batu Buayo, Nagari Sungai Nyalo Mudiak Aia, Kecamatan Koto XI Tarusan. Rumah ibadah umat Konghucu tersebut berdiri di pulau yang merupakan objek wisata itu.
Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, membenarkan bahwa bangunan di Pulau Batu Buayo itu kelenteng. Ia menyebut bahwa investor membangun rumah ibadah itu sebagai salah satu daya tarik wisata.
Hendrajoni menerangkan bahwa investor membangun kelenteng itu untuk wisatawan dari negara penganut Konghucu, seperti wisatawan dari Thailand dan Tiongkok. Ia menyebut bahwa wisatawan perlu beribadah. Karena itu, katanya, investor menyediakan tempat ibadah bagi wisatawan.
“Di pulau itu juga akan dibangun masjid bagi wisatawan muslim,” tutur Hendrajoni.
Hendrajoni menginformasikan bahwa investor akan membuat ojek wisata pantai di pulau itu seperti di Maldives (Maladewa). Ia menyebut bahwa nilai investasinya sekitar Rp300 miliar. Dari dokumen Peta Hasil Pemanfaatan Ruang yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pemkan Pesisir Selatan, di pulau itu akan dibangun glamping, stable kuda, restoran, cottage, sarana olahraga, dan sarana pendukung lainnya.
Hendrajoni mengatakan bahwa masuknya investor seperti ke Pesisir Selatan akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pendapatan asli daerah. Karena itu, ia meminta masyarakat untuk tidak mempersoalkan keberadaan kelenteng di pulau itu. Alasannya, kelenteng tersebut hanyalah sarana pendukung bagi objek wisata pantai itu.
















