Kabarminang – Pengamat infrastruktur sekaligus Dosen Profesi Insinyur Universitas Andalas, Harison, menilai krisis jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah pedalaman Sumatera Barat mencerminkan kegagalan negara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Menurut Harison, keterbatasan akses jaringan seluler di daerah terisolasi membuat masyarakat berada dalam posisi sulit ketika berupaya mencari solusi secara mandiri.
“Kondisi ini bagaikan buah simalakama bagi warga yang mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri,” ujar Harison saat diwawancarai pada Jumat (30/10/2026).
Ia menyoroti kasus di Kepulauan Mentawai ketika seorang anak nagari memanfaatkan perangkat Starlink untuk membuka akses internet bagi masyarakat kampung. Namun, warga tersebut juga memungut biaya operasional atas layanan yang disediakan.
“Ketika pemerintah tidak mampu melayani masyarakat, lalu ada warga yang membantu dan mengambil untung atas modal yang ditanam, negara justru berang,” kata Harison.
Menurutnya, persoalan ketimpangan infrastruktur digital tersebut juga terjadi di sejumlah wilayah pedalaman Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
Mayoritas wilayah Kecamatan Mapat Tunggul, mulai dari Nagari Pintu Padang, Muara Tais, Muara Tais Koto Gadang, hingga Lubuk Gadang, masih menghadapi keterbatasan jaringan telekomunikasi atau blank spot.
Bahkan, kondisi serupa ditemukan di beberapa titik Jorong Guo Siayuang yang merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Mapat Tunggul.



















