Kerja keras dan konsistensinya akhirnya membuahkan hasil. Selain menorehkan prestasi di tingkat internasional, Wafiq juga berhasil memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di National University of Singapore (NUS).
Menurut Dwina, putranya tidak pernah mengikuti bimbingan belajar khusus untuk persiapan olimpiade. Satu-satunya kursus yang pernah diikuti Wafiq hanyalah kursus mengaji Al-Qur’an.
Bahkan, kini Wafiq justru menjadi pengajar di sejumlah kelas persiapan OSN secara daring bagi siswa lain.
Di rumah, lanjut Dwina, Wafiq menjalani kehidupan seperti remaja pada umumnya. Ia masih bermain gim, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga. Namun, seluruh aktivitasnya telah tersusun dalam jadwal harian yang disiplin.
“Kalau kami mengajak makan di luar, harus menyesuaikan dengan jadwalnya. Kalau tidak sesuai jadwal, dia tidak ikut. Semua kegiatannya sudah diatur sendiri, kami tidak pernah mengingatkannya lagi,” ujarnya.
Dwina menyebutkan, Wafiq merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya, Al Qoneri (55), merupakan mantan konsultan, sedangkan ibunya berprofesi sebagai dosen di Politeknik Negeri Padang.
Ia juga mengungkapkan bahwa Wafiq sempat gagal melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di Universitas Indonesia. Kendati demikian, kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah hingga akhirnya diterima melalui beasiswa di National University of Singapore (NUS).
Dalam kesehariannya, Wafiq juga membatasi penggunaan gawai. Menurut orang tuanya, ia tidak memiliki media sosial selain Instagram yang hanya diakses melalui komputer. Di telepon genggamnya hanya terpasang aplikasi WhatsApp, sementara penggunaan perangkat dibatasi dengan fitur screen time untuk menjaga kedisiplinan belajar.















