Selain hibah tanaman, Kementerian Pertanian juga mengalokasikan Rp3 triliun untuk penguatan irigasi, meliputi optimalisasi lahan (oplah), pencetakan sawah baru, serta pompanisasi. Program ini ditargetkan menjangkau sekitar 1,5 juta hektare lahan pertanian.
Pemerintah juga telah membuka pendaftaran bantuan pompa air sebanyak 80 ribu unit yang diperkirakan mampu mengairi sekitar 1 juta hektare lahan, khususnya di daerah rawan kekeringan.
Di sisi lain, pemerintah tengah menggencarkan program peremajaan komoditas perkebunan strategis seperti kakao, kelapa dalam, lada, mete, gambir, dan tebu guna meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar global.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono atau Mas Dar, menyebutkan bahwa anggaran Rp9,95 triliun tersebut akan disalurkan secara bertahap dalam kurun waktu sekitar tiga tahun. Program ini diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi sekaligus kesejahteraan petani.
“Kita remajakan bibitnya yang terstandar dan cara pengelolaannya diperbaiki, sehingga produktivitas meningkat dan petani lebih sejahtera,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga akan mendorong hilirisasi sektor perkebunan melalui pembangunan pabrik pengolahan hasil pertanian. Proyek ini akan dipimpin oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan melibatkan pihak swasta dan petani.
Total investasi untuk program hilirisasi tersebut diperkirakan mencapai Rp371 triliun dan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sementara itu, Amran juga menyampaikan capaian produksi padi nasional yang terus meningkat. Hingga Senin (20/4/2026), produksi padi telah mencapai 4,9 juta ton dan diproyeksikan menembus 5 juta ton dalam beberapa hari ke depan.
















