Sektor perekonomian daerah menjadi poin tuntutan ketiga karena dinilai tengah mengalami kemunduran yang sangat berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat kecil.
“Kondisi ekonomi Sumbar saat ini cukup buruk dan merosot tajam, sehingga kami meminta formulasi kebijakan yang nyata untuk membangkitkan kembali daya beli warga,” ucap Farhan.
Ketimpangan fasilitas pendidikan di berbagai wilayah Sumatera Barat juga tidak luput dari sorotan aliansi mahasiswa sebagai poin tuntutan keempat mereka.
“Kami melihat ada ketimpangan infrastruktur pendidikan yang sangat mencolok antara wilayah perkotaan dan daerah pelosok, yang berakibat pada tidak meratanya kualitas pendidikan anak bangsa,” ungkap Farhan.
Pihak mahasiswa menilai performa Gubernur Mahyeldi saat ini masih jauh dari harapan masyarakat, mengingat masa jabatan yang sudah berjalan cukup lama.
“Gubernur sudah menjabat selama dua periode, namun kami menilai kinerja yang ditunjukkan selama ini tidak maksimal dalam mengeksekusi program kerja,” kata Farhan.
Berbagai persoalan yang tidak kunjung usai ini dinilai oleh mahasiswa sebagai bukti adanya kegagalan dalam manajemen prioritas pembangunan daerah.
“Permasalahan di Sumatera Barat ini sudah sangat kompleks, mulai dari sosial, infrastruktur, ekonomi, hingga pendidikan, tetapi penyelesaiannya terkesan lambat dan setengah hati,” ujar Farhan.
Ia menegaskan bahwa pergerakan ini murni menyuarakan jeritan hati masyarakat yang merasa aspirasinya tidak didengar oleh pemangku kebijakan.
“Gerakan yang kami lakukan hari ini adalah atas nama keresahan masyarakat Sumbar yang merasakan langsung dampak dari belum maksimalnya kinerja pemerintah,” tutur Farhan.
Perwakilan mahasiswa berjanji akan terus mengawal keempat poin tuntutan ini dan siap kembali turun ke jalan jika tidak mendapatkan respons serta tindakan nyata dari kepala daerah.
“Jika tuntutan ini diabaikan, kami pastikan akan membawa massa yang lebih banyak dibanding hari ini untuk menagih janji dan komitmen langsung dari gubernur,” kata Farhan.
















