Hizbul Watan mengatakan, pengalaman tersebut merupakan salah satu bentuk pendidikan berbasis praktik yang diterapkan pesantren. Santri secara langsung berhadapan dengan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan konsistensi.
Berkembang Menjadi Peternakan Kuda
Dari kegiatan pemeliharaan tersebut, Kanzul Ulum kemudian mengembangkan peternakan kuda. Kuda-kuda yang dipelihara mulai berkembang biak dan menghasilkan anak kuda.
Namun, tidak seluruh anak kuda dipertahankan. Sebagian dijual dan hasilnya digunakan untuk membeli kuda yang lebih besar.
“Anak-anak kuda itu tidak semuanya dibesarkan. Ada juga yang dijual, kemudian dibelikan kuda yang sudah besar,” ujarnya.
Saat ini, jumlah kuda yang dimiliki Kanzul Ulum telah mencapai 13 ekor.
Pengelolaan kuda juga dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan usaha pesantren. Pada akhir pekan, santri pernah membawa kuda ke kawasan Pantai Pasia Jambak untuk memberikan layanan wisata berkuda kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman kepada santri dalam mengelola usaha dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi pengguna fasilitas, tetapi juga terlibat dalam operasional kegiatan.
Kanzul Ulum juga pernah membuka pelatihan berkuda bagi masyarakat umum. Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan keterampilan dan usaha pesantren.















