Dalam pemberitaan pada 2025, kompleks pesantren disebut memiliki lahan sekitar 1.800 meter persegi untuk pondok putra dan 1.000 meter persegi untuk pondok putri.
Pengembangan kegiatan pesantren juga diarahkan pada kemandirian. Unit usaha yang berasal dari kegiatan berkuda dan peternakan menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang dapat mendukung kebutuhan pengembangan pesantren.
Kembangkan Pembiakan Kuda Pacu
Dalam perkembangannya, Kanzul Ulum juga memiliki Kamang Chrome, kuda pacu yang memiliki rekam jejak sebagai juara dalam ajang pacuan kuda nasional.
Keberadaan Kamang Chrome kini tidak hanya dimanfaatkan untuk olahraga, tetapi juga untuk program pembiakan.
Dua kuda betina di lingkungan pesantren telah berhasil dikawinkan dengan Kamang Chrome dan saat ini sedang bunting. Keduanya diperkirakan melahirkan pada Desember 2026.
Program tersebut menjadi perkembangan terbaru dari peternakan kuda yang telah dibangun Kanzul Ulum sejak 2016.
Bagi pihak pesantren, berbagai kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan santri. Pembelajaran agama tetap menjadi fondasi, sementara berkuda, memanah, peternakan dan kewirausahaan menjadi ruang bagi santri untuk memperoleh pengalaman praktis.
Hizbul Watan mengatakan pengembangan berbagai keterampilan tersebut diharapkan dapat membentuk santri yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Dengan konsep tersebut, Kanzul Ulum terus mengembangkan pendidikan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kandang kuda, arena latihan, lingkungan pesantren hingga kegiatan usaha menjadi bagian dari ruang belajar para santri.
Dari pesantren yang bermula dari kondisi sederhana, Kanzul Ulum kini berkembang dengan berbagai program pendidikan dan keterampilan. Perpaduan tersebut menjadi salah satu karakter pendidikan pesantren yang berada di Pasie Nan Tigo, Kota Padang.















