Selasa, September 1, 2026
kabarminang.com
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
No Result
View All Result
kabarminang.com
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
kabarminang.com
No Result
View All Result
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis

Ketika Bullying Meledak Menjadi Bom

Qadri Hayatul
Jumat, 17 Juli 2026 00:32
in Artikel & Opini
Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah Ketua Pulaupanjang HAJeF Project (PHP) Pasaman Barat, Sumbar; Dosen bidang PPKn.

Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah Ketua Pulaupanjang HAJeF Project (PHP) Pasaman Barat, Sumbar; Dosen bidang PPKn.


Indonesia sendiri sebenarnya tidak kekurangan regulasi. Kementerian Pendidikan telah berkali-kali mengampanyekan sekolah ramah anak, pencegahan kekerasan, serta penguatan karakter peserta didik. Namun regulasi yang baik sering kali berhenti sebagai spanduk di depan sekolah. Di ruang kelas, budaya mengejek, mempermalukan, mengucilkan, hingga menyebarkan hinaan melalui media sosial masih berlangsung hampir setiap hari.

Yang lebih mengkhawatirkan, bentuk bullying kini jauh lebih kompleks dibanding sepuluh tahun lalu. Dahulu perundungan berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Kini, melalui grup WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga berbagai platform digital lainnya, korban dapat terus menerima hinaan selama dua puluh empat jam sehari. Sekolah selesai, tetapi perundungan tidak pernah pulang.

Karena itu, penyelesaian kasus seperti ini tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum. Penegakan hukum memang penting, apalagi menyangkut penggunaan bahan peledak yang membahayakan keselamatan banyak orang. Namun, hukum hanya menangani akibat. Ia tidak otomatis menyembuhkan akar masalah.

Akar persoalannya adalah kesehatan mental peserta didik yang selama ini masih menjadi “mata pelajaran yang hilang” dalam pendidikan kita. Banyak sekolah memiliki laboratorium komputer, laboratorium sains, bahkan studio multimedia yang megah. Namun, berapa banyak sekolah yang benar-benar memiliki layanan konseling yang aktif, mudah diakses, dipercaya siswa, serta mampu mendeteksi gejala tekanan psikologis sejak dini?

Tidak sedikit guru bimbingan dan konseling harus menangani ratusan bahkan ribuan siswa sekaligus. Dalam kondisi demikian, sulit mengharapkan layanan pendampingan psikologis yang benar-benar efektif. Padahal, banyak kasus kekerasan sebenarnya diawali oleh tanda-tanda kecil yang sudah terlihat jauh sebelumnya: siswa menjadi pendiam, sering membolos, prestasi menurun, menarik diri dari pergaulan, atau menunjukkan ledakan emosi yang tidak biasa.

Kasus MAN 3 Padang juga menjadi pelajaran bahwa budaya diam sama berbahayanya dengan tindakan bullying itu sendiri. Ketika teman-teman mengetahui ada korban yang terus-menerus dirundung tetapi memilih tidak melapor, ketika guru melihat perubahan perilaku siswa tetapi menganggapnya sebagai fase remaja, atau ketika orang tua menganggap anak hanya sedang malas sekolah, sesungguhnya semua sedang ikut memperpanjang penderitaan korban.

Sosiolog Johan Galtung menyebut keadaan seperti ini sebagai kekerasan struktural. Kekerasan tidak selalu berbentuk pukulan atau tendangan. Ia juga dapat muncul ketika sebuah sistem gagal melindungi mereka yang seharusnya dilindungi. Dalam konteks sekolah, kegagalan mendeteksi dan menghentikan bullying merupakan bentuk kekerasan yang bekerja secara diam-diam, tetapi dampaknya bisa sangat besar.

Karena itu, tragedi ini tidak boleh berakhir hanya sebagai berita kriminal beberapa hari. Ia harus menjadi momentum evaluasi nasional mengenai sistem perlindungan peserta didik. Sekolah perlu membangun mekanisme pelaporan bullying yang benar-benar aman bagi korban. Guru harus memperoleh pelatihan yang lebih serius mengenai deteksi dini gangguan psikologis remaja. Orang tua perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak. Pemerintah daerah harus memperkuat layanan psikologi sekolah, bukan sekadar menjalankan program seremonial. Dan masyarakat harus berhenti menganggap perundungan sebagai bagian normal dari proses pendewasaan.


halaman 2 dari 3
Prev123Selanjutnya
Tags: bom rakitanBullyingkekerasan di sekolahKesehatan MentalMAN 3 PadangOpiniPendidikanperundungansekolahSumatera Barat

Berita Terkait

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

27 Agustus 2026
Pejabat dan Skandal Asusila di Ranah Minang: Masih Adakah Rasa Malu?

Pejabat dan Skandal Asusila di Ranah Minang: Masih Adakah Rasa Malu?

25 Agustus 2026
Komisi VIII Desak Kementerian Komdigi Blokir Akun dan Konten LGBT

6 Ayat Alquran tentang Keharaman LGBT Berdasarkan Penjelasan Para Ulama Tafsir

12 Juli 2026
Korupsi Imipas: Ketika Penyimpangan Menjadi Kebiasaan di Lingkungan Birokrasi

Korupsi Imipas: Ketika Penyimpangan Menjadi Kebiasaan di Lingkungan Birokrasi

7 Juni 2026
Kurban, Rokok, dan Refleksi Amanah

Kurban, Rokok, dan Refleksi Amanah

27 Mei 2026
Ketika Hukum Tampak Tidak Konsisten

Ketika Hukum Tampak Tidak Konsisten

29 Maret 2026
Next Post
18 Orang Tewas dalam Kecelakaan di Jalan Tol Pekanbaru—Dumai hingga Juli 2026

18 Orang Tewas dalam Kecelakaan di Jalan Tol Pekanbaru—Dumai hingga Juli 2026

Tinggalkan Komentar

TERPOPULER

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 10 April 2026: Berawan di Seluruh Wilayah

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 10 April 2026: Berawan di Seluruh Wilayah

10 April 2026

Anak Butuh ASI, Tersangka Korupsi Dana Nagari Rp382 Juta di Solok Dialihkan Jadi Tahanan Kota

Anak Butuh ASI, Tersangka Korupsi Dana Nagari Rp382 Juta di Solok Dialihkan Jadi Tahanan Kota

26 Agustus 2026

Viral Video Mesum Diduga ASN Pemprov Sumbar di Ruang Kerja, Ini Kata Sekda

Viral Video Mesum Diduga ASN Pemprov Sumbar di Ruang Kerja, Ini Kata Sekda

24 Agustus 2026

Motor dan Mobil Tabrakan di Pasaman Barat, Seorang Pelajar Tewas

Motor dan Mobil Tabrakan di Pasaman Barat, Seorang Pelajar Tewas

29 Agustus 2026

Tegur Pendaki Gunung Talang Buang Sampah dan Lewati Jam Malam, Warga Solok Dikeroyok Puluhan Orang

Tegur Pendaki Gunung Talang Buang Sampah dan Lewati Jam Malam, Warga Solok Dikeroyok Puluhan Orang

24 Agustus 2026

Perempuan 21 Tahun Bawa 1,01 Kg Sabu ke BIM, Ditangkap di Jalan Lintas Padang-Bukittinggi

Perempuan 21 Tahun Bawa 1,01 Kg Sabu ke BIM, Ditangkap di Jalan Lintas Padang-Bukittinggi

27 Agustus 2026

Sedang Cabuli Siswi SMP, Pemuda Sijunjung Digerebek Warga, Celana Keduanya Sudah Terlepas

Sedang Cabuli Siswi SMP, Pemuda Sijunjung Digerebek Warga, Celana Keduanya Sudah Terlepas

30 Agustus 2026

Informasi

  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Berita

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau

© 2026 Kabarminang.com  All right reserved

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

© 2026 Kabarminang.com All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Advertorial
  • Artikel & Opini
  • Bank Nagari
  • DPRD Sumatera Barat
  • Ekonomi & Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pemilu
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Ranah Minang
  • Pilkada
  • Politik
  • PT Semen Padang
  • Ramadhan
  • Tekno
  • Kabar Sumbar
  • Kabupaten Dharmasraya
  • Kabupaten Limapuluh Kota
  • Kabupaten Padang Pariaman
  • Kabupaten Pasaman Barat
  • Kabupaten Sijunjung
  • Kabupaten Solok
  • Kabupaten Solok Selatan
  • Kota Bukittinggi
  • Kota Padang
  • Kota Padang Panjang
  • Kota Pariaman
  • Kota Payakumbuh
  • Kota Solok
  • Kabar Rantau

© 2025 KabarMinang.com.