Jumat, Juli 17, 2026
kabarminang.com
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
No Result
View All Result
kabarminang.com
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
kabarminang.com
No Result
View All Result
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Ranah Minang
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis

Ketika Bullying Meledak Menjadi Bom

Qadri Hayatul
Jumat, 17 Juli 2026 00:32
in Artikel & Opini
Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah Ketua Pulaupanjang HAJeF Project (PHP) Pasaman Barat, Sumbar; Dosen bidang PPKn.

Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah Ketua Pulaupanjang HAJeF Project (PHP) Pasaman Barat, Sumbar; Dosen bidang PPKn.


Indonesia sendiri sebenarnya tidak kekurangan regulasi. Kementerian Pendidikan telah berkali-kali mengampanyekan sekolah ramah anak, pencegahan kekerasan, serta penguatan karakter peserta didik. Namun regulasi yang baik sering kali berhenti sebagai spanduk di depan sekolah. Di ruang kelas, budaya mengejek, mempermalukan, mengucilkan, hingga menyebarkan hinaan melalui media sosial masih berlangsung hampir setiap hari.

Yang lebih mengkhawatirkan, bentuk bullying kini jauh lebih kompleks dibanding sepuluh tahun lalu. Dahulu perundungan berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Kini, melalui grup WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga berbagai platform digital lainnya, korban dapat terus menerima hinaan selama dua puluh empat jam sehari. Sekolah selesai, tetapi perundungan tidak pernah pulang.

Karena itu, penyelesaian kasus seperti ini tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum. Penegakan hukum memang penting, apalagi menyangkut penggunaan bahan peledak yang membahayakan keselamatan banyak orang. Namun, hukum hanya menangani akibat. Ia tidak otomatis menyembuhkan akar masalah.

Akar persoalannya adalah kesehatan mental peserta didik yang selama ini masih menjadi “mata pelajaran yang hilang” dalam pendidikan kita. Banyak sekolah memiliki laboratorium komputer, laboratorium sains, bahkan studio multimedia yang megah. Namun, berapa banyak sekolah yang benar-benar memiliki layanan konseling yang aktif, mudah diakses, dipercaya siswa, serta mampu mendeteksi gejala tekanan psikologis sejak dini?

Tidak sedikit guru bimbingan dan konseling harus menangani ratusan bahkan ribuan siswa sekaligus. Dalam kondisi demikian, sulit mengharapkan layanan pendampingan psikologis yang benar-benar efektif. Padahal, banyak kasus kekerasan sebenarnya diawali oleh tanda-tanda kecil yang sudah terlihat jauh sebelumnya: siswa menjadi pendiam, sering membolos, prestasi menurun, menarik diri dari pergaulan, atau menunjukkan ledakan emosi yang tidak biasa.

Kasus MAN 3 Padang juga menjadi pelajaran bahwa budaya diam sama berbahayanya dengan tindakan bullying itu sendiri. Ketika teman-teman mengetahui ada korban yang terus-menerus dirundung tetapi memilih tidak melapor, ketika guru melihat perubahan perilaku siswa tetapi menganggapnya sebagai fase remaja, atau ketika orang tua menganggap anak hanya sedang malas sekolah, sesungguhnya semua sedang ikut memperpanjang penderitaan korban.

Sosiolog Johan Galtung menyebut keadaan seperti ini sebagai kekerasan struktural. Kekerasan tidak selalu berbentuk pukulan atau tendangan. Ia juga dapat muncul ketika sebuah sistem gagal melindungi mereka yang seharusnya dilindungi. Dalam konteks sekolah, kegagalan mendeteksi dan menghentikan bullying merupakan bentuk kekerasan yang bekerja secara diam-diam, tetapi dampaknya bisa sangat besar.

Karena itu, tragedi ini tidak boleh berakhir hanya sebagai berita kriminal beberapa hari. Ia harus menjadi momentum evaluasi nasional mengenai sistem perlindungan peserta didik. Sekolah perlu membangun mekanisme pelaporan bullying yang benar-benar aman bagi korban. Guru harus memperoleh pelatihan yang lebih serius mengenai deteksi dini gangguan psikologis remaja. Orang tua perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak. Pemerintah daerah harus memperkuat layanan psikologi sekolah, bukan sekadar menjalankan program seremonial. Dan masyarakat harus berhenti menganggap perundungan sebagai bagian normal dari proses pendewasaan.


halaman 2 dari 3
Prev123Selanjutnya
Tags: bom rakitanBullyingkekerasan di sekolahKesehatan MentalMAN 3 PadangOpiniPendidikanperundungansekolahSumatera Barat

Berita Terkait

Komisi VIII Desak Kementerian Komdigi Blokir Akun dan Konten LGBT

6 Ayat Alquran tentang Keharaman LGBT Berdasarkan Penjelasan Para Ulama Tafsir

12 Juli 2026
Korupsi Imipas: Ketika Penyimpangan Menjadi Kebiasaan di Lingkungan Birokrasi

Korupsi Imipas: Ketika Penyimpangan Menjadi Kebiasaan di Lingkungan Birokrasi

7 Juni 2026
Kurban, Rokok, dan Refleksi Amanah

Kurban, Rokok, dan Refleksi Amanah

27 Mei 2026
Ketika Hukum Tampak Tidak Konsisten

Ketika Hukum Tampak Tidak Konsisten

29 Maret 2026
Pasca Lebaran dan Masa Depan Budaya Belajar

Pasca Lebaran dan Masa Depan Budaya Belajar

28 Maret 2026
Idul Fitri: Ritual Sosial dan Ujian Persatuan

Idul Fitri: Ritual Sosial dan Ujian Persatuan

20 Maret 2026
Tinggalkan Komentar

TERPOPULER

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 10 April 2026: Berawan di Seluruh Wilayah

Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini, 12 April 2026: Berawan hingga Udara Kabur

12 April 2026

Warga Solok Selatan Bunuh Pemandu Lagu di Dharmasraya

Warga Solok Selatan Bunuh Pemandu Lagu di Dharmasraya

14 Juli 2026

Perempuan di Tanah Datar Temukan Suami Tewas Tergantung di Dalam Rumah

Perempuan di Tanah Datar Temukan Suami Tewas Tergantung di Dalam Rumah

16 Juli 2026

Tanam Sembilan Batang Ganja, Pria di Agam Ditangkap, Adiknya Ikut Diringkus

Tanam Sembilan Batang Ganja, Pria di Agam Ditangkap, Adiknya Ikut Diringkus

15 Juli 2026

Polisi Ungkap Kronologi Bocah 5 Tahun Tewas Tenggelam di Astoria Park Padang Pariaman

Polisi Ungkap Kronologi Bocah 5 Tahun Tewas Tenggelam di Astoria Park Padang Pariaman

12 Juli 2026

Wali Kelas Ungkap Sosok Siswa MAN 3 Padang yang Diduga Bawa Bom Rakitan ke Sekolah

Wali Kelas Ungkap Sosok Siswa MAN 3 Padang yang Diduga Bawa Bom Rakitan ke Sekolah

14 Juli 2026

Bocah 5 Tahun Tewas Tenggelam di Kolam Wisata di Padang Pariaman

Bocah 5 Tahun Tewas Tenggelam di Kolam Wisata di Padang Pariaman

12 Juli 2026

Informasi

  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Berita

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau

© 2026 Kabarminang.com  All right reserved

  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ranah Minang
  • Kabar Sumbar
  • Kabar Rantau
  • Privacy Policy
  • Redaksi & Perusahaan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

© 2026 Kabarminang.com All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Advertorial
  • Artikel & Opini
  • Bank Nagari
  • DPRD Sumatera Barat
  • Ekonomi & Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pemilu
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Ranah Minang
  • Pilkada
  • Politik
  • PT Semen Padang
  • Ramadhan
  • Tekno
  • Kabar Sumbar
  • Kabupaten Dharmasraya
  • Kabupaten Limapuluh Kota
  • Kabupaten Padang Pariaman
  • Kabupaten Pasaman Barat
  • Kabupaten Sijunjung
  • Kabupaten Solok
  • Kabupaten Solok Selatan
  • Kota Bukittinggi
  • Kota Padang
  • Kota Padang Panjang
  • Kota Pariaman
  • Kota Payakumbuh
  • Kota Solok
  • Kabar Rantau

© 2025 KabarMinang.com.