Kabarminang — Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar), Tommy Adam, menilai bahwa kerusakan hutan yang masif menjadi pemicu utama meningkatnya konflik antara manusia dan harimau Sumatera dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan catatan Walhi Sumbar, intensitas perjumpaan harimau dengan manusia dalam beberapa waktu terakhir memang cukup massif, termasuk evakuasi satu ekor anak harimau betina berusia 9 bulan yang terluka akibat jerat di Pasaman pada 21 Mei 2026. Begitu juga dengan evakuasi seekor harimau Sumatera remaja bernama “Puti Batuah” di Palupuh, Agam, yang resmi masuk kandang jebak pada 22 Mei 2026 setelah sempat membuat warga terisolasi di pondok sawah.
Tommy menjelaskan bahwa ruang hidup satwa liar tersebut kini menyempit akibat alih fungsi lahan yang tidak terkendali di berbagai wilayah di Sumbar.
“Peningkatan intensitas harimau masuk ke permukiman warga ini sangat berkaitan erat dengan kerusakan dan hilangnya habitat asli mereka,” ujar Tommy kepada Sumbarkita pada Jumat (29/5/2026).
Walhi Sumbar mencatat sedikitnya 10.000 hektare hutan yang menjadi kantong habitat asli harimau Sumatera telah beralih fungsi menjadi area nonkehutanan.
Lebih rinci, Tommy mengungkapkan bahwa kerusakan hutan seluas 7.600 hektar terjadi di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) Batanghari akibat maraknya aktivitas tambang emas ilegal.
“Kerusakan lingkungan tersebut juga meluas ke wilayah Pasaman, Pasaman Barat, dan Lima Puluh Kota dengan hilangnya lebih dari 3.000 hektare hutan akibat tambang ilegal serta pembukaan perkebunan sawit,” ucap Tommy.
Tommy mengingatkan bahwa aktivitas destruktif itu telah memutus koridor atau jalur jelajah alami harimau. Dengan demikian, katanya, satwa tersebut kehilangan arah dan keluar dari hutan untuk mencari makan.














