Cai mencatat bahwa pada 2024 hingga 2025, kunjungan pada hari biasa berada di kisaran 400 hingga 800 orang per hari, sedangkan akhir pekan mencapai sekitar 700 hingga 1.500 orang.
“Pada 2026, jumlah kunjungan hari biasa berada di kisaran 200 hingga 500 orang per hari. Sementara pada akhir pekan, jumlahnya sekitar 400 hingga 1.000 orang,” kata Cai.
Meski mengalami penurunan, Cai mengatakan baha SDF masih memiliki wisatawan yang datang kembali. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengelola tetap melanjutkan pengembangan kawasan secara bertahap.
“Kita berkembang secara bertahap. Kita juga punya banyak pengunjung yang datang kembali,” katanya.
Cai mengatakan bahwa keberadaan SDF memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar. Saat ini sekitar 60 orang bekerja di kawasan tersebut, dengan sekitar 90 persen di antaranya berasal dari masyarakat sekitar.
“Kami berharap SDF bisa menjadi ekobisnis, ikut membangun nagari dan bermanfaat bagi banyak orang,” ujar Cai.
Cai mengatakan bahwa keterlibatan warga juga terlihat dari hubungan SDF dengan petani lokal. Salah satunya melalui penyediaan bibit jagung serta pembelian hasil tanaman untuk kebutuhan pakan ternak. Harga pembelian yang tercatat mencapai Rp250.000 per karung.
Dari sisi pariwisata, kata Cai, aktivitas SDF mencatat pengeluaran wisatawan pada 2025 memberikan injeksi ekonomi sekitar Rp1,968 miliar. Dengan asumsi marginal propensity to consume sebesar 0,75 dan Keynesian multiplier 4, yang berdampak pada pendapatan lokal mencapai sekitar Rp7,872 miliar per tahun.















