Di samping mengembangkan peternakan sapi perah, kata Cai, SDF sejak awal diarahkan sebagai kawasan wisata edukasi yang memadukan peternakan, pertanian dan pengolahan hasil.
“Di sini bukan hanya peternakan. Kita juga mengembangkan wisata edukasi,” tutur Cai.
Pada sektor pertanian, Cai menjelaskan pengunjung diperkenalkan dengan berbagai jenis tanaman yang dikembangkan di kawasan SDF. Tanaman tersebut dikelompokkan dari tanaman buah, sayuran, tanaman hias, tanaman dapur dan obat-obatan hingga tanaman atsiri.
Sementara itu, pada sektor peternakan, kata Cai, pengunjung dapat melihat berbagai jenis hewan yang dipelihara di kawasan tersebut. Selain sapi perah, terdapat domba, bebek, angsa, burung, ikan, ayam, kelinci hingga rusa. Pengembangan wisata dilakukan secara bertahap dengan menghadirkan wahana dan pengalaman baru, terutama pada masa liburan. Salah satu fasilitas yang dikembangkan adalah Rumah Atsiri.
Rumah Atsiri menjadi bagian dari wisata edukasi yang memperkenalkan tanaman aromatik dan herbal sekaligus proses pengolahannya menjadi minyak atsiri dan produk turunannya. Cai mengatakan bahwa konsep tersebut dibuat agar pengunjung tidak hanya melihat tanaman, tetapi juga memahami proses pemanfaatannya.
“Pengembangan wisata itu juga dilengkapi sejumlah fasilitas seperti area swafoto, musala, kamar mandi umum, tempat makan dan wahana permainan,” kata Cai.
Untuk wisatawan, SDF menetapkan tiket masuk Rp20.000 per orang pada Senin hingga Kamis, Rp25.000 per orang pada Sabtu dan Minggu, dan tutup setiap Jumat serta jam kunjungan dimulai pukul 10.00 hingga 18.00 WIB.
“Tiket masuk tersebut dapat ditukarkan dengan satu botol susu segar atau yogurt khas Sirukam, dengan catatan persediaan yogurt untuk penukaran terbatas,” tutur Cai.















