“Warga harus segera melapor jika menemukan tanda keberadaan harimau,” ujarnya.
Hartono menyebut bahwa situasi di lapangan sejauh ini cukup kondusif. Ia mengatakan bahwa warga melalui perangkat nagari memahami langkah-langkah yang diambil BKSDA. Meski begitu, katanya, kewaspadaan tetap dijaga agar tidak terjadi lagi korban.
Kasus konflik manusia dengan harimau Sumatra, kata Hartono, bukan pertama kali terjadi di Sumbar. Ia menyebut bahwa Solok Selatan yang berbatasan dengan hutan lebat memang kerap dilaporkan sebagai jalur perlintasan satwa dilindungi tersebut.
Pihaknya mengingatkan bahwa harimau Sumatra merupakan satwa endemik yang berstatus kritis dan termasuk hewan dilindungi. Hartono menyebut bahwa populasi hewan itu kian terdesak akibat menyusutnya habitat dan meningkatnya aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan.
Karena itu, Hartono mengingatkan agar masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri jika berhadapan dengan satwa liar. Menurutnya, koordinasi dengan aparat sangat penting sebab pihaknya berusaha untuk menjaga keselamatan warga sekaligus kelestarian satwa.
Sebelumnya diberitakan bahwa dua warga diserang harimau di Bukit Batuang Gadang, Jorong Sungai Rambutan, Nagari Persiapan Batang Lolo, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Solok Selatan, pada Selasa (16/9) pukul 16.30 WIB.
Kepala Polsek KPGD, Iptu Taufik Indra, mengatakan bahwa kedua korban bernama Fandi Amsila Ferzio dan Amsal, ayah dan anak. Ia menyebut bahwa keduanya pergi menyadap getah karet pada Selasa (16/9) pukul 8.00 WIB kebun karet di Bukit Batuang Gadang. Namun, pada pukul 18.00 WIB keduanya belum pulang ke rumah.
Kemudian, kata Taufik, anak dari Amsal, Fathar, pergi mencari Fandi dan Amsal ke Bukit Batuang Gadang. Setibanya di lokasi, Fathar melihat harimau, lalu memberitahukannya kepada ayahnya.
















