Kabarminang – Enam bulan setelah bencana melanda sejumlah wilayah di Kota Padang, sebagian warga masih menghadapi krisis air bersih. Kondisi tersebut terjadi di beberapa kawasan terdampak, termasuk di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, yang hingga kini masih mengandalkan bantuan distribusi air dari pemerintah.
Salah seorang warga Kampung Pinang, RT 03/RW 01, Kelurahan Lambung Bukit, Aris (41), mengatakan pasokan air bersih di lingkungan tempat tinggalnya belum kembali normal. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa memanfaatkan air irigasi yang dipompa dari aliran sungai di bagian atas kampung.
“Kami menggunakan air irigasi dan PAM. Air ditarik menggunakan mesin penarik untuk mengalirkan air irigasi dari atas, tetapi kalau tidak ada hujan, airnya langsung kering dan kami kesulitan air bersih,” ujar Aris, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, ketergantungan terhadap sumber air yang tidak stabil membuat masyarakat berharap pemerintah dapat terus menyalurkan bantuan air bersih secara rutin dan berkelanjutan.
Sementara itu, Humas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Hariza Riko, menyebutkan pihaknya masih terus mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak krisis hingga Sabtu (6/6/2026).
Ia mengatakan armada BPBD kembali memprioritaskan pengiriman air bersih ke sejumlah titik di Kelurahan Lambung Bukit yang masih mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Sebelumnya, pada Jumat (5/6/2026), BPBD bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang telah menyalurkan sebanyak 88.000 liter air bersih ke sejumlah kawasan terdampak di Kecamatan Kuranji.
Riko menjelaskan bahwa distribusi bantuan masih diperlukan karena kondisi irigasi yang menjadi sumber alternatif warga belum sepenuhnya pulih. Situasi semakin sulit ketika curah hujan mulai berkurang.
“Bantuan ini terus kami salurkan karena kondisi irigasi di Lambung Bukit masih belum stabil, terlebih lagi ketika intensitas hujan mulai jarang,” katanya.
Berdasarkan data operasional harian BPBD, permintaan bantuan air bersih dari masyarakat masih tergolong tinggi. Rata-rata, posko penanggulangan menerima sekitar 30 laporan permintaan bantuan setiap hari yang masuk melalui BPBD maupun Damkar.
Tingginya kebutuhan tersebut membuat petugas di lapangan harus bekerja hingga larut malam untuk memastikan pasokan air dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak.
“Permintaan bantuan dari masyarakat sangat banyak, dalam sehari bisa mencapai 30 laporan. Bahkan petugas kami di lapangan menyalurkan bantuan air ini hingga jam 2 dini hari,” ujar Riko.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Kota Padang masih menghadapi tantangan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat berupa akses terhadap air bersih.
















