Pada hari pertama latihan, kata SJ, RA hanya mengenal teman dari sekolahnya sendiri. Salah seorang teman RA berinisial N kemudian berteman dengan siswa dari SDN 15.
“Pada hari Selasa selesai latihan menari itu RA sakit kepala. Kemudian, RA dihampiri oleh N. Ketika N mendatangi RA, teman-teman N dari SD 15 merasa RA merebut N jadi temannya,” kata SJ kepada Sumbarkita pada Kamis (6/8/2026).
SJ menuturkan, sejak Rabu (29/7/2026), adiknya mulai diduga menjadi sasaran perundungan. Sejumlah siswa dari SDN 15 disebut melontarkan ejekan kepada RA.
“RA dipanggil miskin, hitam, mata celek. Kejadian itu juga direkam lalu diposting di TikTok oleh salah seorang siswa SD 15,” ujar SJ.
Menurut SJ, pada Jumat (31/7/2026), seorang siswa SDN 15 berinisial S menghubungi RA melalui WhatsApp untuk meminta maaf. RA disebut hanya membaca pesan tersebut tanpa membalas.
Namun, seorang teman RA yang masih duduk di bangku SMP kemudian datang menemui korban. Teman tersebut melihat pesan permintaan maaf dan membalasnya menggunakan ponsel RA.
“Balasan yang dikirim berbunyi, ‘Najis siapa kali kamu minta maaf? Habis membuli dan menghujat seenaknya aja minta maaf lagi’,” tutur SJ.
SJ menduga balasan tersebut memicu kemarahan S.
Korban Diduga Dikeroyok
Pada Minggu (2/8/2026), setelah latihan tari selesai, S disebut mengajak RA berkelahi satu lawan satu di pinggir sungai kawasan Lapangan Bola Sungai Sariak.














