“Karena mengira akan berkelahi satu lawan satu, RA pergi sendiri tanpa memberi tahu teman-temannya maupun mahasiswa KKN,” ujarnya.
Sesampainya di lokasi, RA disebut mendapati S datang bersama sejumlah temannya dari SDN 15.
SJ mengatakan, adiknya kemudian dipegang oleh beberapa anak, sementara S diduga memukul kepala dan menendang perut korban. Sejumlah anak lainnya disebut ikut menarik rambut RA.
Menurut SJ, setelah RA menangis karena kesakitan, salah seorang anak mengatakan, “Sudah itu. RA sudah menangis. Ini kita sudah melakukan pembulian. Nanti RA pingsan bagaimana?”
Berdasarkan pengakuan adiknya, kata SJ, ada anak lain yang merespons, “Kalau pingsan nanti kita buang saja ke sungai.”
Setelah kejadian tersebut, kelompok siswa itu disebut meninggalkan lokasi. Sementara RA pulang ke rumah dalam keadaan menangis dan mengalami sejumlah luka.
Keluarga kemudian membawa RA ke Puskesmas Sungai Lansek. SJ mengatakan kepala korban mengalami bengkak, bagian belakang kepala terasa lunak, kening mengalami luka gores, dan bawah mata memar. Setelah tiba di rumah, RA juga mengeluhkan sakit pada bagian perut.
Pada Senin (3/8/2026), keluarga kembali membawa RA ke Klinik Hendra Praja untuk pemeriksaan lanjutan. Di klinik tersebut, korban menjalani pemeriksaan rontgen.
“Berdasarkan hasil ronsen, RA dinyatakan mengalami infeksi usus. Saat diperiksa dokter, setiap bagian perutnya yang disentuh terasa sakit. Dia juga mengeluhkan sesak di dada,” tutur SJ.














