Ketegangan meningkat ketika pertandingan memasuki babak tambahan waktu atau extra time kedua. Saat itu, Payakumbuh unggul dengan skor 2-1 atas Sawahlunto dalam perebutan medali emas.
Keributan bermula dari pelanggaran keras di tengah lapangan yang memancing emosi pemain. Situasi kemudian memanas hingga terjadi aksi saling pukul dan wasit menghentikan pertandingan untuk meredakan keadaan.
Wasit mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang terlibat dalam aksi pemukulan. Setelah itu, kedua tim melanjutkan pertandingan dengan masing-masing 10 pemain di lapangan.
“Kericuhan di cabang sepak bola murni dinamika di dalam lapangan pada babak tambahan waktu karena tingginya tensi perebutan medali emas,” jelas Septri.
Septri mengatakan aparat keamanan bergerak cepat mengendalikan situasi sehingga keributan tidak meluas ke tribun penonton. Ia menyebut tidak ada korban jiwa maupun korban luka serius dalam insiden tersebut.
“Petugas kepolisian langsung turun mengamankan area pertandingan sehingga tidak ada korban jiwa maupun luka-luka serius dari insiden tersebut,” ungkapnya.
Selain dua insiden dalam pertandingan final itu, panitia juga mencatat gesekan antarpes pendukung pada cabang futsal di wilayah Padang Pariaman. Gesekan tersebut dipicu aksi saling ejek setelah pertandingan.
Menurut Septri, terdapat perbedaan pola kericuhan dalam dua cabang olahraga tersebut. Pada pertandingan futsal di Lima Puluh Kota, keributan terjadi setelah pertandingan berakhir, sedangkan pada final sepak bola, insiden berlangsung ketika pertandingan masih berjalan.


















