Kabarminang – Setiap pukul 04.00 WIB, ketika sebagian warga Kota Padang masih terlelap, Rati sudah terjaga di rumahnya di Kampung Jao. Perempuan berusia 60 tahun itu membersihkan rumah, menunaikan salat, lalu memasak untuk suaminya yang sedang sakit sebelum berangkat berjualan sayur di Pasar Raya Padang.
Sudah lebih dari lima tahun Rati menggantungkan hidup dari sayuran yang dijualnya di kawasan Blok IV Pasar Raya Padang. Namun, sejak pertengahan 2025, ia mengaku semakin kesulitan mendapatkan pembeli. Dagangan yang tidak habis, cuaca buruk, dan modal yang terkadang tak kembali menjadi bagian dari kesehariannya.
Rati biasanya berangkat ke pasar sekitar pukul 07.00 WIB. Persiapan berdagang terkadang sudah dimulai sejak malam. Selepas Isya, ia membereskan sayuran yang akan dijual jika persediaan sudah tersedia. Jika belum, ia mencari sayuran setelah memasak dan makan bersama suaminya.
Tidak semua sayuran yang dijualnya harus dibeli. Rati memetik sendiri genjer di sekitar rumah, sedangkan bayam dan kangkung biasanya dibeli dari petani langganan. Dari situlah ia mengumpulkan dagangan untuk dibawa ke pasar setiap hari.
Modal yang disiapkan Rati rata-rata mencapai Rp300 ribu untuk sekali berjualan. Jumlah tersebut bergantung pada cuaca dan ketersediaan sayuran. Dalam kondisi penjualan normal, ia mengaku bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu sehari.
Namun, angka itu tidak selalu tercapai. Menurut Rati, pembeli mulai berkurang sejak pertengahan 2025. Ketika cuaca buruk, keadaan semakin sulit. Bahkan, uang hasil penjualan terkadang tidak cukup untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan.
“Saya enggak bisa membandingkan, karena sekarang nilai uang Rp100 ribu saja terasa seperti uang Rp10 ribu saat dibelanjakan,” katanya kepada Sumbarkita, Selasa (13/10/2026).
Sayuran Tak Terjual, Modal Terancam Hilang
Bagi Rati, sepinya pembeli bukan sekadar persoalan pendapatan yang menurun. Sayuran yang dibawanya ke pasar memiliki masa segar yang terbatas. Jika tidak terjual, ia tidak bisa menyimpannya berhari-hari sambil menunggu pembeli kembali ramai.
















